Cuaca Panas Ekstrem Mempercepat Degradasi Baterai Kendaraan Listrik yang Harus Diketahui

Jakarta – Dalam beberapa hari terakhir, Indonesia mengalami suhu panas yang ekstrem, dan ini membawa dampak signifikan bagi kinerja serta umur pemakaian kendaraan listrik (EV). Situasi ini menjadi perhatian serius bagi pengguna EV, terutama dari sudut pandang degradasi baterai kendaraan listrik yang berpotensi memperpendek masa pakai dan efisiensi kendaraan tersebut.
Pemahaman Dasar tentang Degradasi Baterai Kendaraan Listrik
Degradasi baterai kendaraan listrik adalah proses di mana baterai kehilangan kapasitasnya seiring waktu dan penggunaan. Salah satu faktor utama yang memengaruhi degradasi ini adalah suhu lingkungan. Menurut Yannes Martinus Pasaribu, seorang pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), suhu di atas 35 derajat Celsius dapat mempercepat degradasi baterai secara signifikan.
Reaksi kimia dalam baterai berjalan lebih cepat pada suhu tinggi, yang menyebabkan kapasitas baterai menurun lebih cepat. Dengan kata lain, ketika suhu meningkat, baterai akan kehilangan kemampuannya untuk menyimpan dan menyediakan energi secara efisien. Hal ini dapat mengakibatkan penurunan jarak tempuh kendaraan, yang dapat berkurang hingga 30 persen, dan mempercepat proses pengisian daya yang menjadi lebih lambat.
Dampak Cuaca Panas pada Kinerja Baterai
Ketika kapasitas baterai menurun, pengguna akan merasakan perubahan signifikan dalam performa kendaraan. Dalam kondisi panas ekstrem, ada beberapa efek yang mungkin terjadi:
- Penurunan jarak tempuh: Kendaraan dapat kehilangan jarak tempuh antara 10 hingga 30 persen.
- Pengisian daya yang lebih lambat: Proses untuk mengisi ulang baterai menjadi lebih lama.
- Umur pakai baterai yang berkurang: Umur pemakaian baterai bisa berkurang hingga 30 persen.
- Performa yang tidak optimal: Efisiensi kendaraan secara keseluruhan menurun.
- Kebutuhan perawatan yang lebih tinggi: Pengguna harus lebih perhatian terhadap kondisi kendaraan listrik mereka.
Perawatan Baterai saat Cuaca Panas
Di tengah kondisi cuaca panas, pengguna kendaraan listrik perlu lebih proaktif dalam melakukan perawatan baterai. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil untuk menjaga kinerja baterai:
- Aktifkan fitur preconditioning: Sebelum berkendara, aktifkan fitur ini untuk mendinginkan baterai.
- Parkir di tempat teduh: Usahakan untuk memarkir kendaraan di garasi atau area yang terlindung dari sinar matahari langsung.
- Hindari paparan sinar matahari: Jauhkan kendaraan dari paparan langsung sinar matahari dalam waktu lama.
- Jaga tingkat daya baterai: Pertahankan SoC (state of charge) di kisaran 20 hingga 80 persen.
- Hindari pengisian cepat saat suhu tinggi: Jangan gunakan fast charging pada suhu lingkungan yang tinggi.
Pentingnya Sistem Pendingin Baterai
Perawatan yang tepat juga melibatkan pemeriksaan rutin terhadap sistem pendingin baterai. Ini mencakup pemantauan cairan pendingin (coolant) dan sensor suhu yang berfungsi menjaga performa optimal baterai. Yannes menekankan bahwa sistem manajemen termal (thermal management system/TMS) yang banyak ditemukan pada kendaraan listrik modern biasanya berbasis pendingin cair yang mampu menjaga suhu baterai dalam batas aman, yaitu antara 20 hingga 40 derajat Celsius.
Fungsi dan Keterbatasan TMS
TMS yang canggih ini bahkan mampu beroperasi dengan baik pada suhu lingkungan yang tinggi, di atas 40 derajat Celsius. Sistem ini mengaktifkan pompa dan kipas secara otomatis untuk mendinginkan baterai. Namun, meskipun sistem ini sangat efektif, Yannes mengingatkan bahwa penggunaan TMS juga memiliki keterbatasan.
Pada kondisi ekstrem, TMS tetap memerlukan energi tambahan yang dapat mengurangi jarak tempuh kendaraan sekitar 5 hingga 10 persen. Oleh karena itu, pengguna tetap disarankan untuk melakukan langkah-langkah perawatan tambahan untuk mencegah degradasi baterai yang lebih cepat.
Strategi Pengisian Daya yang Efektif
Pengisian daya kendaraan listrik juga perlu diperhatikan, terutama saat cuaca panas. Yannes menyarankan agar pengguna menghindari pengisian daya sampai 100 persen setiap hari, terutama dalam situasi cuaca ekstrem. Pengisian baterai sebaiknya dilakukan pada malam hari ketika suhu lebih rendah untuk mencegah panas tambahan.
Jika memungkinkan, gunakan pengisian Level 2 dan batasi fast charging hingga 80 persen saja. Ini penting untuk menjaga suhu baterai tetap stabil dan mengurangi risiko penuaan baterai yang lebih cepat. Hal ini juga akan membantu dalam menjaga efisiensi kendaraan di jalan raya.
Kesimpulan
Dengan meningkatnya suhu ekstrem yang terjadi di Indonesia, penting bagi pengguna kendaraan listrik untuk lebih memahami dampak cuaca panas terhadap degradasi baterai kendaraan listrik. Melalui langkah-langkah perawatan yang tepat, seperti menjaga suhu baterai, memarkir kendaraan dengan bijak, dan memilih strategi pengisian yang efektif, pengguna dapat memperpanjang umur pakai baterai dan menjaga performa kendaraan mereka. Kesadaran dan tindakan proaktif sangat diperlukan untuk memastikan kendaraan listrik tetap berfungsi optimal, meskipun dalam kondisi cuaca yang tidak menguntungkan.
➡️ Baca Juga: Rangkaian Safari Ramadhan Pemkab Lamsel Ditutup oleh Bupati Egi di Masjid Nurul Huda
➡️ Baca Juga: Panglima TNI Bersama Menhan RI Tinjau Penertiban Lahan Tambang di Kalteng




