Orangtua Bertanggung Jawab Atas Kegandrungan Anak Terhadap Gadget

Dalam era digital ini, sulit untuk menemukan anak-anak yang tidak familiar dengan perangkat gadget. Kegandrungan anak terhadap gadget semakin menjadi fenomena yang umum. Namun, siapakah yang harus bertanggung jawab atas fenomena ini? Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim M.Psi, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, menekankan pentingnya peran keluarga dalam mengawasi dan mengendalikan penggunaan gadget berlebihan oleh anak-anak.
Peran Orangtua dalam Membatasi Akses Gadget
Menurut Prof. Romi, seperti yang dia biasa dipanggil, pemerintah telah melakukan langkah yang tepat dengan membatasi akses anak-anak di bawah 16 tahun ke berbagai platform digital. Namun, dalam konteks ini, peran keluarga, khususnya orangtua, sangat penting. “Tanggung jawab utama dalam membatasi penggunaan gadget ada pada keluarga, khususnya orangtua,” kata dia.
Keadaan dalam keluarga sangat dinamis. Ada keluarga dimana kedua orangtua bekerja, sehingga pengawasan terhadap anak menjadi terbatas. Meski demikian, Prof. Romi menekankan pentingnya keluarga untuk mengadakan program atau kegiatan kecil di rumah untuk menerapkan aturan tersebut, agar anak menerima tanpa merasa frustrasi.
Pendampingan dalam Penggunaan Gadget
Pendampingan dalam penggunaan gadget bisa dilakukan oleh ayah, ibu, atau keduanya bersama-sama, tergantung pada kondisi keluarga. Bahkan, jika orang tua sibuk, pendampingan bisa didelegasikan ke orang yang dipercaya, asalkan tetap mengikuti program atau kegiatan yang telah disusun oleh orang tua.
“Misalnya, kita bisa membuat program seperti tebak-tebakan atau proyek bersama antara kakak dan adik. Program ini harus dibuat menarik sehingga anak tertarik,” tambahnya.
Membatasi Gadget dengan Kegiatan Alternatif
Menurut Prof. Romi, pembatasan penggunaan gadget tanpa menyediakan kegiatan alternatif tidak akan efektif. Anak membutuhkan aktivitas lain yang sama atau bahkan lebih menarik daripada gadget.
Oleh karena itu, orang tua perlu menciptakan kegiatan alternatif. Jika anak hanya diminta berhenti menggunakan gadget tanpa ada aktivitas lain yang dilakukan bersama, anak akan kebingungan dan cenderung kembali ke gadget.
Sebagai contoh, orang tua bisa mengajak anak mengerjakan proyek sederhana di rumah, seperti membuat karya seni, melakukan penelitian kecil, atau menulis. Misalnya, anak diajak menulis tentang binatang melata dengan mencari ide dan mengumpulkan foto-foto binatang di sekitar rumah. Kegiatan seperti ini dapat merangsang rasa penasaran anak dan membuat mereka aktif, sehingga tidak lagi terpaku pada gadget.
Orangtua Harus Terlibat Dalam Kegiatan Anak
“Orang tua yang hanya berada dekat anak secara fisik tetapi tidak terlibat dalam kegiatan anak akan membuat anak merasa tidak nyaman. Jangan hanya duduk secara fisik, tetapi juga memberikan stimulasi tertentu. Itu akan jadi tantangan juga untuk anak,” tambahnya.
Prof. Romi menyarankan orang tua untuk membangun hubungan yang kuat dengan anak. Anak perlu merasa bahwa setiap tindakan yang dilakukan orang tua adalah untuk kebaikan mereka. Oleh karena itu, meski sibuk, orang tua harus tetap meluangkan waktu untuk anak.
Gadget sebagai Media Pembelajaran
Menurut Prof. Romi, penggunaan gadget bersama anak untuk tujuan yang bermanfaat, seperti menambah pengetahuan, tidak menjadi masalah selama tetap dalam pengawasan. Namun, orang tua harus mencegah anak untuk kembali ke gadget untuk setiap aktivitas.
“Pada anak usia dini terutama, apa yang dilakukan secara langsung seperti mengasah kemampuan motorik, emosi, dan kognitif, itu jauh lebih baik dengan langsung daripada virtual,” tutur dia.
➡️ Baca Juga: Panglima TNI Perintahkan Siaga 1, Jajaran Harus Perkuat Kesiapan dan Deteksi Ancaman
➡️ Baca Juga: Persiapan Piala AFF U17 2026: Timnas Indonesia Seleksi Tiga Pemain Diaspora dari Berbagai Negara
