PLN EPI Kembangkan Hidrogen Hijau dari Biomassa Selain Co-firing untuk Energi Berkelanjutan

Jakarta – PT. PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) kini mengambil langkah signifikan dalam memperluas pemanfaatan biomassa. Tidak hanya sebatas sebagai bahan bakar untuk co-firing di pembangkit listrik, tetapi juga sebagai komponen utama dalam pengembangan BioCNG (Compressed Biomethane Gas) dan hidrogen hijau. Inisiatif ini menunjukkan komitmen PLN EPI untuk mendukung transisi menuju energi berkelanjutan dan mengurangi emisi karbon di Indonesia.
Nota Kesepahaman untuk Energi Terbarukan
Inisiatif tersebut diresmikan melalui penandatanganan dua nota kesepahaman dengan mitra strategis pada acara The 12th IndoEBTKE ConEx 2026 yang berlangsung di JIExpo Kemayoran pada tanggal 2 hingga 4 September. Kesepakatan ini merupakan langkah penting dalam memperkuat bauran energi terbarukan, sekaligus mendukung upaya percepatan pencapaian target net zero emission (NZE) di tanah air.
Hokkop TI Situngkir, Direktur Biomassa PLN EPI, menjelaskan bahwa pengembangan biomassa merupakan bagian integral dari strategi PLN Group untuk meningkatkan penggunaan energi terbarukan. Dengan demikian, PLN EPI berupaya membangun rantai nilai bioenergi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.
Konsep Co-firing dalam Penggunaan Biomassa
Menurut Hokkop, dasar dari strategi ini adalah konsep co-firing. “Kami mengumpulkan berbagai bahan hayati, mengolahnya, dan kemudian menerapkannya di pembangkit listrik kami,” ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa PLN EPI tidak hanya berfokus pada efisiensi, tetapi juga pada keberlanjutan dalam pemanfaatan sumber daya yang ada.
Salah satu tipe pembangkit yang paling siap untuk memanfaatkan biomassa adalah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Dengan karakteristik bahan bakar yang mendukung, biomassa dapat digunakan untuk menggantikan sebagian penggunaan batubara, sehingga menghasilkan energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan.
Pengembangan Berkelanjutan hingga 2030
Hokkop menambahkan bahwa meskipun saat ini PLN EPI telah memulai pemanfaatan biomassa, perjalanan untuk mencapai semua target ini masih panjang, terutama menjelang tahun 2030. Rencana kerja untuk pemanfaatan biomassa di PLN telah disusun dengan cermat untuk memastikan pencapaian target-target yang telah ditetapkan.
Kerja Sama dalam Pengembangan BioCNG
Salah satu langkah nyata dalam pengembangan biomassa adalah penandatanganan nota kesepahaman antara PLN EPI, PT Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas), dan PT Kis Biofuels Indonesia. Kerja sama ini bertujuan untuk mengembangkan BioCNG dan/atau gas berbasis biomassa, dengan memanfaatkan limbah organik seperti Palm Oil Mill Effluent (POME) dan limbah peternakan sebagai bahan baku.
- Penggunaan limbah organik sebagai sumber daya.
- Peningkatan efisiensi dalam produksi energi.
- Pengurangan emisi gas rumah kaca.
- Kontribusi terhadap ekonomi sirkular.
- Peningkatan ketahanan energi nasional.
Dalam skema ini, PGN Gagas akan berperan sebagai off-taker produk BioCNG. Penandatanganan dilakukan oleh Hokkop Situngkir, Santiaji Gunawan selaku Direktur Utama PGN Gagas, serta KR Ragunath Kandikeri sebagai Direktur PT Kis Biofuels Indonesia, menandai komitmen bersama untuk membangun ekosistem energi yang lebih baik dan berkelanjutan.
Inovasi Melalui Teknologi Pengolahan Biomassa
Hokkop menjelaskan lebih lanjut tentang proses inovatif yang diterapkan dalam pengembangan BioCNG. “Kami akan mengambil metana dari proses pengolahan biomassa, kemudian menciptakan reaktor dan sistem pendukung lainnya. Semua ini dilakukan dengan bekerja sama dengan pihak teknologi untuk menghasilkan produk yang berkualitas,” ungkapnya.
Kesepakatan ini tidak hanya berfokus pada produksi BioCNG, tetapi juga pada pengembangan biomassa sebagai bagian dari ekosistem hidrogen hijau. PLN EPI menandatangani Nota Kesepahaman tentang pengembangan ekosistem hidrogen hijau berbasis biomassa di Indonesia, bekerja sama dengan CISRI HY&POR Technology Co., Ltd. dan PT Pupuk Kujang Cikampek.
Peluang Hidrogen Hijau dari Biomassa
Dalam kerjasama ini, Hokkop menjelaskan bahwa proses pengolahan biomassa akan menghasilkan gas yang dapat dikembangkan menjadi sumber hidrogen. “Setelah biomassa melalui proses gasifikasi, hidrogen yang dihasilkan akan ditangkap dan digunakan oleh Pupuk Kujang sebagai off-taker,” jelasnya. Ini menunjukkan potensi biomassa untuk menjadi pilar penting dalam produksi hidrogen hijau yang berkelanjutan.
Dengan berbagai langkah strategis ini, PLN EPI menunjukkan komitmen yang kuat untuk mengeksplorasi dan memanfaatkan sumber daya biomassa secara optimal. Melalui pengembangan inovatif dan kolaborasi dengan berbagai mitra, PLN EPI tidak hanya berkontribusi terhadap pengurangan emisi, tetapi juga mendukung perkembangan ekosistem energi terbarukan yang lebih luas di Indonesia.
Menjawab Tantangan Energi Masa Depan
Di tengah tantangan global yang dihadapi akibat perubahan iklim dan kebutuhan energi yang terus meningkat, pengembangan hidrogen hijau dari biomassa menjadi salah satu solusi yang menjanjikan. PLN EPI, dengan berbagai inisiatifnya, berupaya menghadirkan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan, sekaligus membuka peluang baru dalam sektor energi.
Dengan dukungan teknologi yang tepat dan kerjasama yang solid antara berbagai pihak, potensi biomassa sebagai sumber energi terbarukan dapat direalisasikan secara maksimal. Ini tidak hanya akan memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan dan masyarakat.
Langkah-langkah strategis yang diambil oleh PLN EPI mencerminkan visi jangka panjang untuk menciptakan sistem energi yang lebih berkelanjutan. Dengan mengintegrasikan biomassa dalam bauran energi, PLN EPI tidak hanya mempersiapkan diri untuk masa depan, tetapi juga menunjukkan kepemimpinan dalam transisi energi yang diperlukan untuk mencapai target-target lingkungan yang ambisius.
➡️ Baca Juga: Wali Kota Bandung Tegaskan Peran Pemerintah Hubungkan Pencari dan Penyedia Lapangan Kerja
➡️ Baca Juga: Menghadapi Timnas Bulgaria, Timnas Indonesia Butuh Ketahanan Fisik yang Lebih Kuat




