DPRD DKI Jakarta Soroti Pengendalian Kendaraan Pribadi dalam Pembahasan ERP Terbaru

Jakarta – Kemacetan lalu lintas di Ibu Kota masih menjadi tantangan besar bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, meskipun berbagai pilihan transportasi umum seperti MRT, LRT, Transjakarta, dan JakLingko telah diperkenalkan. Berbagai upaya ini belum sepenuhnya berhasil dalam mengurangi kepadatan kendaraan di jalan-jalan utama.
Penerapan Electronic Road Pricing (ERP) sebagai Solusi
Dalam konteks permasalahan ini, wacana mengenai penerapan Electronic Road Pricing (ERP) kembali mencuat sebagai salah satu metode pengendalian lalu lintas yang efektif. Kebijakan ini direncanakan untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi di ruas-ruas jalan tertentu dengan menerapkan sistem tarif.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengakui bahwa kemacetan masih menjadi isu yang harus dihadapi. Namun, ia menekankan bahwa kualitas sistem transportasi umum di Jakarta terus meningkat, memberikan masyarakat lebih banyak pilihan untuk beralih dari kendaraan pribadi.
Kualitas Transportasi Umum yang Meningkat
“Transportasi umum saat ini lebih aman dan nyaman,” jelas Pramono saat konferensi di Balai Kota DKI Jakarta. Menurutnya, Pemprov DKI Jakarta terus berusaha untuk memperluas jangkauan layanan transportasi publik, termasuk melalui pengembangan program Transjabodetabek.
Upaya ini sangat penting, mengingat kemacetan di Jakarta tidak hanya dipengaruhi oleh pergerakan warga di dalam kota, tetapi juga oleh tingginya mobilitas masyarakat dari daerah pinggiran. Hal ini turut berkontribusi pada tingkat kepadatan lalu lintas yang tinggi setiap harinya.
Mobilitas Warga dari Daerah Penyangga
Dalam acara Indonesia Summit yang diselenggarakan di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada 18 Juni 2026, Pramono mengungkapkan bahwa setiap pagi, sekitar 3,5 juta hingga 4 juta orang memasuki Jakarta untuk bekerja. Mereka kemudian kembali ke daerah asal mereka pada sore atau malam hari, menciptakan arus komuter yang sangat besar. Ini menjadi salah satu tantangan utama bagi sistem transportasi di Jakarta.
Pentingnya Kebijakan Pengendalian Kendaraan Pribadi
Di sisi lain, Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, Judistira Hermawan, mengemukakan pandangannya bahwa pembangunan transportasi massal saja tidak cukup untuk mengatasi masalah kemacetan. Ia menekankan bahwa pemerintah juga perlu menerapkan kebijakan yang fokus pada pengendalian pertumbuhan dan penggunaan kendaraan pribadi.
- Pengembangan transportasi massal yang berkelanjutan.
- Penerapan kebijakan yang mendukung pengendalian kendaraan pribadi.
- Penetapan tarif untuk kendaraan pribadi di ruas jalan tertentu.
- Penyaluran dana dari ERP untuk subsidi transportasi publik.
- Peningkatan konektivitas antar moda transportasi.
“Transportasi massal itu penting, tetapi harus diiringi dengan kebijakan pengendalian kendaraan pribadi,” ujar Judistira. Ia menilai bahwa ERP dapat menjadi salah satu alat untuk mengurangi jumlah kendaraan pribadi di jalan sekaligus berpotensi meningkatkan pendapatan daerah.
Penerimaan ERP sebagai Sumber Pendanaan
Judistira menyebutkan bahwa pendapatan yang diperoleh dari penerapan ERP bisa digunakan untuk memperkuat subsidi dan meningkatkan kualitas layanan transportasi publik. Namun, ia juga menyadari bahwa kebijakan ini mungkin menambah beban finansial bagi masyarakat yang tetap memilih menggunakan kendaraan pribadi.
Menunggu Kesiapan Transportasi Massal
Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, memiliki pandangan yang berbeda terkait penerapan ERP di Jakarta. Ia berpendapat bahwa kebijakan ini belum tepat jika konektivitas transportasi publik di kawasan Jabodetabek belum sepenuhnya siap.
“Jika ERP diterapkan saat ini, masyarakat yang terdampak akan merasakan kesulitan,” kata Djoko. Ia menekankan pentingnya menyediakan alternatif transportasi yang memadai sebelum memberlakukan pembatasan penggunaan kendaraan pribadi melalui tarif.
Keberhasilan Pengendalian Kendaraan di Kota Lain
Djoko menjelaskan bahwa keberhasilan penerapan kebijakan pengendalian kendaraan di kota-kota seperti London dan Singapura tidak hanya bergantung pada penerapan tarif. Kebijakan tersebut berhasil diterapkan berkat dukungan sistem transportasi umum yang memiliki kapasitas, kenyamanan, dan konektivitas yang baik.
- Pengembangan transportasi umum yang terintegrasi.
- Meningkatkan kenyamanan dan keamanan pengguna transportasi publik.
- Penyediaan fasilitas pendukung seperti jalur pejalan kaki dan jalur sepeda.
- Implementasi teknologi untuk memudahkan akses transportasi.
- Menjalin kemitraan dengan sektor swasta untuk optimalisasi layanan.
Pendekatan Transportation Demand Management (TDM)
Menurut Djoko, pengendalian kemacetan seharusnya melibatkan pendekatan Transportation Demand Management (TDM) dengan strategi yang seimbang antara menarik dan mendorong. Strategi ini mencakup upaya untuk menarik masyarakat agar menggunakan transportasi umum dan sekaligus mendorong pembatasan penggunaan kendaraan pribadi.
Strategi menarik dilakukan dengan menyediakan transportasi umum yang nyaman dan terintegrasi, serta melengkapinya dengan fasilitas pendukung seperti jalur pejalan kaki dan jalur sepeda. Di sisi lain, strategi mendorong berfokus pada pembatasan penggunaan kendaraan pribadi melalui berbagai instrumen kebijakan.
Kesimpulan
Dalam menghadapi masalah kemacetan yang terus menjadi tantangan, DKI Jakarta perlu mengambil langkah-langkah strategis yang lebih holistik. Penerapan kebijakan seperti ERP harus dilengkapi dengan penguatan sistem transportasi umum agar masyarakat dapat beralih dari kendaraan pribadi dengan lebih mudah. Dengan pendekatan yang komprehensif dan melibatkan berbagai stakeholder, diharapkan masalah kemacetan dapat teratasi dan kualitas hidup warga Jakarta dapat meningkat.
➡️ Baca Juga: BBM Stabil Meski Harga Minyak Dunia Meningkat, Fokus pada Strategi Transportasi Publik 2026
➡️ Baca Juga: Anabul Ikut Lebaran? Ini 4 Baju Koko Kucing yang Bikin Makin Gemoy




