Insentif Tiket Pesawat Perlu Ditingkatkan untuk Meningkatkan Aksesibilitas Perjalanan

Dalam beberapa tahun terakhir, industri penerbangan nasional Indonesia telah menghadapi tantangan yang signifikan akibat berbagai faktor, termasuk ketegangan geopolitik dan lonjakan harga energi. Di tengah kondisi ini, Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) mengajukan sejumlah rekomendasi kebijakan untuk memastikan keberlanjutan sektor penerbangan. Salah satu isu kunci yang muncul adalah pentingnya insentif tiket pesawat, yang dianggap perlu ditingkatkan agar aksesibilitas perjalanan dapat lebih merata dan terjangkau bagi seluruh masyarakat.
Analisis Kebijakan Insentif Tiket Pesawat
Ketua Umum MTI, Haris Muhammadun, mengemukakan bahwa kebijakan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) yang diterapkan untuk tiket pesawat hanya berfungsi sebagai solusi sementara. Ia menjelaskan bahwa meskipun insentif ini dapat menekan kenaikan harga pada saat permintaan rendah, dampaknya akan berkurang saat musim ramai (high season) karena harga avtur yang tetap tinggi, dan mekanisme pasar yang cenderung meningkatkan tarif tiket.
“PPN DTP ini lebih berperan sebagai penanganan gejala, bukan sebagai solusi mendasar untuk memperkuat sektor penerbangan,” ungkap Haris dalam pernyataannya di Jakarta, Rabu (29/4). Hal ini menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih holistik untuk mendukung industri penerbangan agar tetap kompetitif dan berkelanjutan.
Kebijakan Struktural yang Diperlukan
Untuk mengatasi permasalahan yang ada, MTI mendorong diterapkannya kebijakan yang lebih struktural. Beberapa rekomendasi yang diusulkan meliputi:
- Reformasi harga dan suplai avtur.
- Pemberian insentif fiskal bagi maskapai, termasuk pengurangan sementara pajak penghasilan (PPh) badan.
- Insentif untuk leasing pesawat.
- Relaksasi bea impor suku cadang untuk menjaga arus kas dan solvabilitas industri.
Langkah-langkah ini diharapkan dapat menciptakan iklim yang lebih kondusif bagi maskapai penerbangan untuk beroperasi secara efisien dan berkelanjutan.
Pentingnya Efisiensi dalam Sektor Navigasi dan Bandar Udara
Selain kebijakan fiskal, efisiensi dalam sektor navigasi dan bandar udara juga sangat penting. Optimalisasi rute penerbangan dapat mengurangi biaya operasional, sementara langkah-langkah seperti pengurangan waktu delay dan penerapan Performance Based Navigation (PBN) juga perlu dipertimbangkan. Tujuannya adalah untuk menurunkan biaya layanan bandara, termasuk ground handling, parkir, dan landing fee.
Dengan meningkatkan efisiensi operasional di sektor ini, diharapkan biaya tiket pesawat dapat ditekan, sehingga menjadikan perjalanan udara lebih terjangkau bagi masyarakat.
Pentingnya Penguatan Industri MRO
MTI juga menyoroti perlunya penguatan industri Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) dalam negeri. Dengan mendorong penggunaan pesawat buatan lokal, biaya operasional dapat diminimalkan. Di samping itu, pengkajian ulang terhadap aturan tarif batas atas (TBA) juga dianggap penting, mengingat kondisi industri penerbangan yang terus berubah.
Dampak Kenaikan Harga Avtur
Kenaikan harga avtur domestik yang telah melampaui 70 persen sejak April 2026 mengakibatkan prediksi kenaikan harga tiket berkisar antara 9 hingga 13 persen. Sebagai respons terhadap situasi ini, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan fuel surcharge sebesar 38 persen dan PPN DTP 11 persen. Kebijakan ini bertujuan untuk menjaga keterjangkauan tiket pesawat bagi masyarakat.
Meskipun demikian, Haris menilai bahwa langkah-langkah tersebut bersifat sementara, karena hanya berlaku sekitar 60 hari. Jika ketidakpastian global terus berlanjut, tekanan terhadap maskapai dan konsumen diperkirakan akan semakin meningkat.
Pandangan Ekonom Terhadap Kebijakan Insentif
Ekonom dari Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, berpendapat bahwa PPN DTP memang membantu meredam inflasi, meskipun dampaknya terhadap perilaku konsumen terbilang terbatas. Ia mencatat bahwa beberapa kelompok penumpang, seperti Aparatur Sipil Negara (ASN) dan perusahaan, cenderung tidak sensitif terhadap penurunan harga tiket.
Wijayanto juga menyatakan bahwa kebijakan yang ada saat ini belum sepenuhnya optimal, karena masih bersifat parsial dan belum menyentuh akar permasalahan dalam industri penerbangan.
Rekomendasi untuk Kebijakan Insentif Tiket Pesawat yang Lebih Efektif
Untuk meningkatkan efektivitas insentif tiket pesawat, sejumlah langkah perlu dipertimbangkan. Beberapa di antaranya adalah:
- Peningkatan transparansi dalam pengelolaan subsidi dan insentif untuk tiket pesawat.
- Pengembangan program loyalitas dan kemitraan strategis dengan berbagai sektor untuk meningkatkan jumlah penumpang.
- Penerapan kebijakan insentif yang lebih terintegrasi, melibatkan semua pemangku kepentingan dalam industri penerbangan.
- Penguatan regulasi untuk menjaga keberlanjutan dan daya saing maskapai nasional.
- Investasi dalam teknologi untuk meningkatkan efisiensi operasional dan pengalaman penumpang.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan insentif tiket pesawat dapat ditingkatkan, sehingga aksesibilitas perjalanan udara menjadi lebih baik dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat.
Kesimpulan
Insentif tiket pesawat merupakan faktor penting dalam menjaga keberlanjutan industri penerbangan nasional. Dalam menghadapi tantangan yang ada, diperlukan pendekatan yang lebih struktural dan holistik. Dengan menerapkan kebijakan yang tepat, diharapkan aksesibilitas perjalanan dapat meningkat, serta industri penerbangan dapat tetap tumbuh dan bersaing di tingkat global.
➡️ Baca Juga: Swiss Open 2026: Strategi Matang Ginting Membuka Jalan ke Babak Kedua
➡️ Baca Juga: Bahlil Tegaskan Subsidi BBM RON 95-98 Hanya untuk Masyarakat Mampu dan Tetap Aman




