Reki Dwi Putra Seorang anak muda yang suka berbagi ilmu pengetahuan dan bertempat tinggal di Lampung

Cerita Cinta Bokeh di Senggol Berujung Wik Wik

3 min read

Cerita Cinta Bokeh di Senggol Berujung Wik Wik – Narasi dongeng pendek untuk anak yang lucu ini bercerita dua teman dekat yakni Monyet dan kelinci yang berlomba-lomba untuk hilangkan rutinitas jelek mereka. kelihatan tingkah laku yang paling lucu pada mereka saat mereka usaha tidak untuk lakukan rutinitas jeleknya. Baca saja yu narasi anak lucu nya

Awalnya narasi di suatu hari, kelihatan di tepi sungai ada satu ekor monyat dan satu ekor kelinci. Umumnya sang kelinci sukai dengar beberapa cerita dari sang monyet. Sebetulnya sang kelinci sukai akan cerita-erita sang monyet, namun sang kelinci sedikit risi dan terusik dengan rutinitas jelek sang monyet yang menyukai menggaruk-garuk sebagian besar sisi badannya dia garuk-garuk.

Dan begitu juga kebalikannya, Sang monyetpun sukai jika mengobrol dengan sang kelinci, namun sang monyet juga terasa terusik dengan rutinitas jelek sang kelinci yang menyukai mengendus-endus dan sukai menggerakan kuping nya kesisi kanan dan kesisi kiri.

Dan pada akhirannya simonyet juga membulatkan tekad berbicara bermaksud menyapa ke sang kelinci. “Hei kau kelinci, apa kau dapat hentikan rutinitas jelek mu itu ?” tegur sang monyet ke sang kelinci

“Hentikan apa monyet?” sang kelinci balik menanyakan
“Stop mengendus-endus, stop menggerak-gerakan hidung, dan stop menggerak-gerakan telinga mu yang panjang itu kelinci…, Begitu jeleknya rutinitas kau kelinci…” Jawab sang monyet

“Hei kau monyet, kau cuman dapat memandang rutinitas jelek ku saja, bagimana dengan rutinitas jelek mu? setiap kita kembali asyik bercakap kau sering kali menggeruk-garuk. Benar-benar buruk sekali kebiasan mu itu monyet” Tegur sang kelinci membalasnya peringatan sang monyet barusan

cerita bokeh museum asli 2021

“kelinci, saya tidak dapat menghentika nya,” kata sang monyet
“Monyet, saya tidak selamanya harus mengendusi, menggerakan telinga dan hidung ku.” kata sang kelinci membalasnya pengucapan yang di lontarkan sang monyet padanya barusan. Pada akhirnya mereka juga sama-sama membalasnya perbincangan itu. Dan sang monyet juga karena tidak terima di tegur semacam itu oleh sang kelinci, akhiranya sang monyet juga melawan kelinci untuk berlaga.

Sang monyet minta sang kelinci sejak saat inilah jangan kembali mengendus-endus dan menggerak-gerakan hidung dan telinganya kembali. dan sang monyet juga sama, dia tidak kembali menggaruk-garuk kembali.

Singkat kata, esok harinya mereka berdua juga berjumpa kembali di tepi sungai di tempat umumnya mereka berdua berjumpa. Mereka berdua sedang jalankan visi rintangan yang sulit, sang monyet tidak boleh menggeruk-garuk kembali, begitu juga sang kelinci jangan mengendus-endus, atau menggerak-gerakan hidung dan telinganya.

Pada akhirnya sesuai hasil keputusan janji mereka berdua, kelinci dan monyet juga cuman duduk termenung saja. sang monyet masih tetap diam tetapi ia diam sedang meredam ingin menggaruk rasakan kulitnya yang paling gatal, dia ingin menggaruk dagunya, dan lengan kiri dan kanan nya juga angat berasa gatal. Namun sang monyet masih tetap coba bertahan dan masih tetap termenung.

Demikian juga hal, sang kelinci juga sedang usaha meredam rutinitas jeleknya itu. Sebetulnya Dia ingin sekali mengendus-enduskan hidungnya, ingin sekali menggerakan kupingnya, tetapi dia masih tetap kelihatan duduk saja.

“Monyet, saya punyai gagasan, Kita duduk saja di sini sangat lama, dan aku juga mulai jemu. Bagaimana jika kita mengobrol dan menceritakan untuk habiskan waktu.” Kata sang kelinci

“Itu gagasan yang sangatlah baik kelinci, silakan kau kelinci menceritakan lebih dulu ” Kata sang monyet

Sang kelinci mulai menceritakan. “Monyet, saat tempo hari saya akan tiba ke sini untuk menjumpai mu, saya mencium seakan ada singa dibalik rumput-rumputan. Oleh karenanya, aku juga mengendus-endus udara, tapi singa itu tidak ada disitu. Tetapi saya belum percaya dibalik rumput itu tidak ada singa, Nach untuk menentukannya aku juga menggerakan hidung ku seringkali, tetapi tidak ada berbau singa disitu. Selanjutnya saya menggerak-gerakan telinga ku ke kiri dan kekanan untuk dengarkan, tapi memanglah tidak ada singa di situ. Dan pada akhirnya aku juga percaya jika dibalik rumput itu memanglah tidak ada singa. Selanjutnya aku juga meneruskan perjalanan kesini untuk menjumpaimu temanku.”

Simonyet juga dengarkan narasi sang kelinci itu yang menceritakan sekalian menggerak-gerakan hidung dan telinganya.

Selanjutnya sang monyet mulai menceritakan. “temanku, tempo hari juga sama. Saat saya akan menjumpaimu di sini di tengah-tengah jalan saya berpapasan dengan beberapa anak, mereka usil sekali kepadaku kelinci. pertama salah satunya dari mereka melempar kelapa dan berkenaan kepalaku pas di sini, dan sianak satunya melempar batok kelapa dan pas sekali berkenaan daguku di sini kelinci. Dan dua anak wanita itu melemparkan ku dengan batok kelapa pas berkenaan tangan kiri dan tangan kanan ku. Selanjutnya aku juga lari secepatnya ketepi sungai ini untuk menjumpai mu teman dekat ku.”

Sikelinci juga dengarkan dan menyaksikan pergerakan simonyet saat menceritakan. Dan sikancil juga ketawa cekikikan, dan sang monyetpun ketawa lebar. Sebetulnya sikelinci tahu apakah yang dilaksanakan oleh simonyet, dan kebalikannya sang monyet juga tahu apakah yang dilaksanakan sang kelinci.

“ya…ya..ya monyet, narasi mu benar-benar sangat bagus monyet. tetapi kau kalah dalam laga ini monyet, karena kau menggeruk saat menceritakan.” kata sikelinci

“Iya kelinci, narasi mu betul-betul bagus kelinci. Tapi saat kau menceritakan kau mengendus-endus dan menggerakan telinga mu.” balas sang monyet

“kupikir kita berdua tidak ada yang dapat hilangkan kebiasan jelek kita ini. Karena saya sendiri tidak dapat hilangkan rutinitas ini ” kata sikelinci sekalian mengendus-endus dan mengerak-gerakan telinganya

“Aku juga sama kelinci, aku juga tidak dapat hilangkan rutinitas jelek ini.” Kata sang monyet sekalian menggaruk-garuk kepala, dagu dan menggeruk tangan kanan kirinya.

Pada akhirnya ke-2 nya sepakat, jika rutinitas jelek mereka berdua sulit di hilangkan. dan mereka juga sepakat tidak untuk terasa terusik dengan rutinitas mereka semasing.

Pesan kepribadian dari Dongeng pendek ini ialah Jika tiap orang mempunyai kekurangan dan kelebihan, Dan kita sebagai makhluk sosial harus bisa terima kekurangan seseorang dan tidak memaksa kehendak kita.

Untuk kelanjutan Cerita Cinta Bokeh di Senggol Berujung Wik Wik kalian bisa baca “DISINI” demi kenyamanan bersama ya guys yak. Jadi untuk cerita terupdatenya kalian bisa kunjungi setiap hari Doki.co.id. Dan Sampai jumpa pada pembahasan selanjutnya ya guys.

Reki Dwi Putra Seorang anak muda yang suka berbagi ilmu pengetahuan dan bertempat tinggal di Lampung