Desa Tegalluar Terendam Banjir, Kepala Desa Minta Tindakan Segera dari Pemprov Jabar

Banjir yang melanda Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, telah menyebabkan dampak yang signifikan terhadap kehidupan masyarakat dan sektor pertanian setempat. Dengan sekitar 75 persen area desa terendam air, situasi ini menjadi perhatian serius bagi banyak pihak.

Dampak Banjir di Desa Tegalluar

Kepala Desa Tegalluar, Galih Hendrawan, mengungkapkan bahwa kondisi saat ini sangat mengkhawatirkan. Menurutnya, hampir seluruh wilayah desa terendam air, menciptakan tantangan besar bagi penduduk.

Data yang diperoleh menunjukkan bahwa sebanyak 4.075 warga, dari total populasi sekitar 6.700 jiwa, terpengaruh oleh bencana ini. Selain itu, ribuan rumah terendam, dan situasi ini belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan.

Dampak pada Sektor Pertanian

Masalah ini tidak hanya berpengaruh pada permukiman, tetapi juga pada sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi desa. Dari total area desa seluas sekitar 756 hektare, sekitar 500 hektare merupakan lahan pertanian. Sayangnya, sebagian besar lahan tersebut kini terendam air.

Galih menambahkan, banjir ini tidak hanya disebabkan oleh curah hujan lokal, tetapi juga melibatkan kiriman air dari berbagai daerah yang bermuara ke Sungai Cikeruh.

Asal Usul Banjir

Menurut penjelasan Galih, air yang menyebabkan banjir berasal dari beberapa lokasi, termasuk Ujung Berung, Gedebage, Cinambo, Jatinangor, dan Rancaekek. Kondisi ini menciptakan situasi yang rumit, di mana penanganan harus melibatkan banyak stakeholder.

Upaya Penanganan Banjir

Pemerintah desa, bersama dengan Pemerintah Kabupaten Bandung, telah mengambil langkah konkret dalam menangani banjir dengan melakukan normalisasi Sungai Cipamokolan Lama. Upaya ini bertujuan untuk memperlancar aliran air dan mengurangi dampak banjir yang berkepanjangan.

“Normalisasi sungai sudah dilakukan dan cukup memberikan efek positif dalam mempercepat penurunan debit air,” ungkap Galih. Ke depan, pihak desa berencana untuk melanjutkan normalisasi ke saluran-saluran kecil agar aliran air semakin optimal.

“Setelah air surut, kami akan melanjutkan normalisasi saluran kecil yang terhubung dengan Cipamokolan Lama,” tambahnya.

Pentingnya Dukungan Pemprov Jabar

Di tengah situasi yang mengkhawatirkan ini, Galih juga menyerukan agar Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) mengambil peran lebih aktif dalam penanganan masalah banjir. Ia menekankan bahwa isu ini tidak dapat diselesaikan hanya oleh Pemerintah Kabupaten Bandung, mengingat dampaknya yang meluas ke daerah lain di Bandung Raya.

“Masalah banjir ini memerlukan perhatian bersama. Ini bukan hanya menjadi tanggung jawab Kabupaten Bandung, tetapi juga seluruh wilayah Bandung Raya,” tegasnya.

Galih menegaskan bahwa banjir yang melanda Desa Tegalluar sebagian besar merupakan kiriman air dari daerah lain seperti Kota Bandung, Sumedang, Jatinangor, hingga Rancaekek yang semuanya bermuara ke Sungai Cikeruh.

Harapan untuk Masa Depan

Dengan adanya upaya penanganan banjir yang lebih terkoordinasi dan dukungan dari pemerintah provinsi, diharapkan situasi di Desa Tegalluar dapat segera membaik. Masyarakat pun berharap agar langkah-langkah preventif dan perbaikan infrastruktur dapat diterapkan untuk mencegah terulangnya bencana serupa di masa mendatang.

Desa Tegalluar kini berada di persimpangan. Dengan adanya kerjasama antara pemerintah desa, kabupaten, dan provinsi, diharapkan ada solusi berkelanjutan untuk mengatasi masalah banjir ini secara efektif.

➡️ Baca Juga: Lomba Jong Race Bintan Menarik Perhatian Wisatawan Lokal dan Turis Mancanegara

➡️ Baca Juga: Konflik Timur Tengah di Luar Kendali, Peringatan Sekjen Guterres untuk Dunia

Exit mobile version