Dies Natalis ke-56 IKJ: Wagub Rano Ajak Mahasiswa Ciptakan Jakarta yang Lebih Manusiawi

Jakarta – Dalam rangka merayakan Dies Natalis Ke-56 Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menekankan pentingnya peran IKJ sebagai pusat kebudayaan yang tidak hanya melahirkan seniman, tetapi juga memengaruhi perkembangan peradaban kota. Pidato kebudayaan yang disampaikannya dalam acara pembukaan berlangsung di Auditorium IKJ, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, pada Senin, 27 April.

Perjalanan 56 Tahun IKJ

Rano Karno mengungkapkan bahwa perjalanan selama 56 tahun IKJ bukanlah sekadar angka dalam kalender akademik. Melainkan, ia merangkum sejarah panjang dari berbagai pelaku seni yang telah menciptakan karya-karya penting untuk kemajuan budaya di Jakarta.

“Lima puluh enam tahun IKJ adalah rekaman perjalanan para seniman, aktor, perupa, sineas, musisi, penari, peneliti, dan mahasiswa yang berkontribusi dalam menciptakan dan mendistribusikan karya-karya yang mencerminkan peradaban kota kita,” ujarnya dengan penuh semangat.

Peran Seni dalam Identitas Kota

Dalam pandangannya, seni memiliki fungsi yang sangat fundamental dalam pembentukan identitas suatu kota. Rano menegaskan bahwa tanpa adanya seni, Jakarta hanya akan menjadi kumpulan infrastruktur fisik yang kehilangan jiwa dan esensi kemanusiaannya.

“Jakarta yang tidak memiliki seni hanyalah sekumpulan beton. Namun, Jakarta yang kaya seni adalah kota yang memiliki jiwa, yang mampu mengenang, mengkritik, dan menciptakan kembali identitasnya,” tuturnya dengan tegas.

Tema Dies Natalis yang Relevan

Rano juga menyampaikan bahwa tema Dies Natalis tahun ini, “Creative Knowledge & Global Presence: Leading to Artpreneur”, sangat relevan dengan tantangan zaman yang dihadapi saat ini. Ia berpendapat bahwa kreativitas tidak hanya mengandalkan bakat, tetapi juga memerlukan pengetahuan, riset, disiplin, keberanian, teknologi, jejaring, serta kepekaan sosial.

Menjaga Ekosistem Kreatif

Rano berpendapat bahwa seniman masa kini harus dapat menjaga ekosistem kreatif sambil memahami bahasa dunia, tanpa harus kehilangan identitas lokal mereka. Menurutnya, menjadi global tidak seharusnya membuat seseorang terputus dari akar budaya mereka.

“Seniman di era sekarang tidak hanya perlu mencipta, tetapi juga harus mampu menjaga ekosistem dan memahami bahasa dunia tanpa melupakan aksen dari kampung halamannya. Menjadi global seharusnya tidak membuat kita asing terhadap identitas budaya kita sendiri,” jelasnya.

IKJ sebagai Mitra Strategis

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melihat IKJ sebagai mitra strategis dalam membangun kota yang inklusif dan berbudaya. Rano berharap IKJ terus berfungsi sebagai laboratorium kreatif yang dapat menghasilkan gagasan-gagasan besar untuk mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi Jakarta.

“Dari kampus seni seperti IKJ, kami berharap lahir ide-ide brilian tentang bagaimana menjadikan Jakarta lebih manusiawi, terbuka, dan mampu berinteraksi di panggung global melalui kebudayaan,” tambahnya.

Peran Seni dalam Membangun Jakarta

Rano menekankan bahwa seni memiliki kemampuan yang luar biasa untuk merawat ingatan kolektif masyarakat. Ia percaya bahwa seringkali, seni mengekspresikan kebenaran yang lebih jujur dibandingkan dengan pidato-pidato resmi dari para pejabat.

“Seni memiliki cara yang ajaib untuk merawat ingatan; kadang-kadang, ia lebih jujur daripada ucapan yang diungkapkan oleh pejabat,” pungkasnya, menegaskan pentingnya peran seni dalam kehidupan sosial dan budaya Jakarta.

➡️ Baca Juga: Cara Efektif Mengajak Keluarga Berkontribusi dalam Operasional Bisnis Rumahan Anda

➡️ Baca Juga: KKP Evaluasi Izin Laut di PSN Surabaya Waterfront untuk Lancarkan Investasi

Exit mobile version