Karhutla di Sulsel Ancam Keberadaan Lukisan Manusia Purba Berusia 45.000 Tahun

Di Sulawesi Selatan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas mengancam keberadaan lukisan prasejarah manusia purba yang berusia lebih dari 45.000 tahun. Lukisan-lukisan ini, yang terletak di dalam goa-goa di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, menjadi semakin rentan akibat kondisi lingkungan yang semakin memburuk. Kebakaran yang terus meluas tidak hanya mengancam keberadaan situs arkeologi ini, tetapi juga warisan budaya yang sangat berharga bagi sejarah manusia.
Dampak Karhutla Terhadap Situs Arkeologi
Arkeolog dari Griffith University, Australia, Basran Burhan, mengungkapkan bahwa kebakaran yang terjadi di kawasan situs arkeologi sangat berisiko menyebabkan kerusakan permanen pada gambar-gambar cadas yang ada. Menurutnya, jika kebakaran tidak segera ditangani, kondisi lukisan-lukisan tersebut akan semakin memburuk.
Basran, yang telah melakukan penelitian mendalam di kawasan ini selama bertahun-tahun, menegaskan bahwa kerusakan yang ditimbulkan oleh karhutla dapat bersifat destruktif. Gambar-gambar yang dilukis oleh manusia purba ini bisa mengalami kerusakan yang tidak bisa diperbaiki, merugikan generasi mendatang yang seharusnya dapat mempelajari warisan ini.
Efek Panas Ekstrem
Dua efek utama dari karhutla dapat merusak lukisan-lukisan prasejarah tersebut. Pertama, panas yang ekstrem dapat memengaruhi kondisi lukisan meskipun tidak ada kontak langsung antara api dan lukisan. Basran menjelaskan bahwa suhu yang sangat tinggi dapat mengubah temperatur sekitar gambar, mempercepat proses pelapukan material yang digunakan untuk membuat lukisan.
Ketika suhu lingkungan menjadi terlalu tinggi, batuan gamping yang selama ribuan tahun stabil akan mengalami tekanan yang tidak biasa, menyebabkan retakan mikro. Retakan ini dapat menjalar hingga lapisan pigmen lukisan, yang berpotensi menyebabkan pengelupasan masif.
Jelaga dan Asap
Efek kedua yang merugikan berasal dari jelaga dan asap yang dihasilkan oleh kebakaran. Asap tebal yang kaya akan partikel karbon akan membentuk lapisan jelaga di permukaan gambar gua. Basran mengungkapkan bahwa jelaga ini akan menutupi detail-detail lukisan, membuatnya sulit dikenali.
Akibatnya, lukisan-lukisan tersebut akan tampak kabur, dan warna asli dari pigmen yang digunakan pun akan sulit terlihat. Hal ini sangat mengkhawatirkan karena akan menyulitkan penelitian lebih lanjut tentang sejarah dan budaya manusia purba.
Konservasi yang Terancam
Upaya konservasi yang telah dilakukan untuk menjaga kelestarian lukisan-lukisan ini kini terancam sia-sia akibat kebakaran skala besar. Balai Pelestarian Kebudayaan Sulsel telah memberlakukan aturan ketat, membatasi jumlah pengunjung ke dalam gua menjadi maksimal lima orang. Langkah ini diambil untuk melindungi situs dari kerusakan lebih lanjut.
Aturan tersebut tidak hanya bertujuan untuk mencegah kerusakan fisik, tetapi juga untuk mengontrol suhu lokal dan kelembapan di sekitar gua. Satu hal yang mungkin tidak terpikirkan adalah bahwa suhu tubuh manusia pun dapat memberikan dampak negatif terhadap keawetan lukisan dalam jangka panjang.
Perubahan Iklim Mikro
Basran menegaskan bahwa jika suhu tubuh manusia dapat berpengaruh, maka dampak dari kebakaran hutan akan jauh lebih besar. Ini bukan hanya sekadar masalah karhutla, tetapi juga merupakan isu yang berkaitan dengan perubahan iklim mikro yang terjadi di dalam lingkungan gua.
Kawasan Maros-Pangkep bukanlah sekadar hutan biasa; itu adalah galeri seni terbuka tertua di dunia. Pada dinding-dinding gua kapur di kawasan ini, manusia purba telah menggoreskan gambar babi rusa dan cap tangan yang berusia lebih dari 45.000 tahun, jauh mendahului lukisan-lukisan terkenal di Eropa, seperti yang ada di Lascaux, Prancis.
Dampak Ekosistem dan Biodiversitas
Kebakaran di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung tidak hanya merusak warisan budaya, tetapi juga berdampak pada vegetasi dan habitat satwa endemik yang dilindungi. Keanekaragaman hayati di kawasan ini juga terganggu, yang dapat menyebabkan dampak jangka panjang bagi ekosistem setempat.
Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Abdul Rajab, menyebutkan bahwa luas lahan yang terbakar pada Senin, 12 Oktober, mencapai 34,74 hektare. Angka ini meningkat drastis menjadi 93,43 hektare pada Kamis, 15 Oktober. Kebakaran pertama kali dilaporkan di Kelurahan Kassi, Kecamatan Balocci, Pangkep, pada Minggu, 11 Oktober, pukul 21.00 WITA.
Upaya Penanganan dan Kesadaran Lingkungan
Dalam menghadapi ancaman ini, perlu adanya upaya penanganan yang lebih serius dari semua pihak. Kesadaran akan pentingnya menjaga warisan budaya dan lingkungan harus ditingkatkan. Program-program edukasi dan pelibatan masyarakat dalam konservasi menjadi kunci untuk melindungi situs-situs berharga ini.
- Pengawasan ketat terhadap aktivitas yang dapat memicu kebakaran.
- Penerapan regulasi lingkungan yang lebih ketat untuk melindungi kawasan sensitif.
- Pelibatan masyarakat lokal dalam program konservasi.
- Pengembangan teknologi pemantauan kebakaran yang efektif.
- Promosi kesadaran akan pentingnya pelestarian warisan budaya.
Keberadaan lukisan manusia purba di Sulsel adalah cermin dari sejarah panjang peradaban manusia. Dengan melindungi lukisan-lukisan ini, kita juga menjaga identitas dan warisan yang tak ternilai bagi generasi mendatang. Karhutla di Sulsel bukan hanya ancaman bagi lingkungan, tetapi juga bagi pengetahuan dan budaya kita.
➡️ Baca Juga: Musik Timurnesia Memiliki Struktur Ideal untuk Meningkatkan Engagement di Media Sosial
➡️ Baca Juga: Penanaman 1.500 Bibit Bakau untuk Mengatasi Abrasi di Pesisir Utara secara Efektif



