Pemerintah Indonesia dihadapkan pada tantangan besar dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif. Salah satu aspek yang sangat krusial adalah kepastian kebijakan, yang menjadi fondasi untuk menarik investor. Tanpa adanya perbaikan struktural yang signifikan, Indonesia akan kesulitan bersaing dengan negara-negara lain di Asia Tenggara dalam upaya menarik investasi asing. Dalam konteks ini, penting untuk memahami bagaimana kebijakan yang tidak konsisten dapat menghambat daya saing investasi Indonesia.
Pentingnya Kepastian Kebijakan untuk Daya Saing Investasi
Menyusul analisis dari sejumlah ekonom dan akademisi, termasuk peneliti dari GREAT Institute dan Universitas Indonesia, terungkap bahwa realisasi investasi pada semester pertama tahun 2026 mencapai angka yang cukup signifikan. Tercatat, investasi mencapai 1.010,6 triliun rupiah, yang setara dengan 49,5 persen dari target yang ditetapkan untuk tahun tersebut.
Namun, angka tersebut harus dilihat dalam konteks yang lebih luas, terutama terkait dengan posisi Indonesia dalam persaingan investasi di kawasan ASEAN. Meskipun investasi domestik menunjukkan pertumbuhan yang menggembirakan, realitas menunjukkan bahwa pangsa pasar Indonesia dalam investasi di ASEAN justru mengalami penurunan.
Perbandingan Investasi di ASEAN
Data menunjukkan bahwa meskipun penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) meningkat dari 693 triliun rupiah pada tahun 2017 menjadi 1.931 triliun rupiah pada tahun 2025, pangsa Indonesia terhadap total investasi di ASEAN justru turun. Dari 13,2 persen, kini pangsa Indonesia menyusut menjadi 8,8 persen dalam periode yang sama. Ironisnya, pangsa ASEAN terhadap investasi global justru meningkat dari 8,8 persen menjadi 15 persen.
Kondisi ini menegaskan bahwa kebijakan yang dapat diprediksi sangat penting, terutama yang berkaitan dengan sektor industri. Dalam dunia investasi saat ini, persaingan bukan hanya soal biaya, tetapi juga tentang kualitas ekosistem yang ditawarkan oleh suatu negara.
Kebutuhan Investor Terhadap Ekosistem yang Stabil
Investor kini semakin mengutamakan aspek-aspek seperti infrastruktur yang memadai, ketersediaan energi, tenaga kerja terampil, akses pasar, serta kepastian regulasi. Hal ini menunjukkan bahwa keuntungan biaya saja tidak lagi cukup untuk menarik minat investor.
“Kompetisi investasi telah beralih dari sekadar pencarian keuntungan biaya menuju pencarian keuntungan ekosistem. Investor kini memerlukan kepastian dalam aturan yang berlaku. Jika regulasi mengalami perubahan yang terlalu cepat, mereka cenderung menunggu sebelum mengambil keputusan,” ungkap Adhamski dalam penjelasannya.
Contoh Kebijakan yang Menghambat
Salah satu contoh konkret dari ketidakpastian kebijakan adalah kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) untuk sumber daya alam yang mengalami perubahan dalam waktu singkat. Perubahan ini terjadi melalui sejumlah peraturan, mulai dari PP No. 36 Tahun 2023 hingga PP No. 21 Tahun 2026.
Selain itu, prosedur sertifikasi lahan juga mengalami perubahan yang signifikan dalam setahun, melalui tiga peraturan berbeda yang dikeluarkan oleh Kementerian Agraria dan Tata Ruang. Perubahan yang cepat ini menciptakan ketidakpastian dan menambah risiko bagi pelaku usaha.
Pentingnya Kepastian Kebijakan Jangka Panjang
Kepastian kebijakan tidak hanya penting untuk tahun 2026, tetapi juga untuk mencapai target investasi di tahun-tahun berikutnya. Dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi antara 5,8 hingga 6,5 persen, dengan PMTB diharapkan tumbuh antara 6,5 hingga 7,5 persen. Kontribusi sektor ini diperkirakan mencapai sekitar 29 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Target ini mencakup realisasi PMA dan PMDN yang ditetapkan sebesar 2.322 hingga 2.469 triliun rupiah pada 2027, meningkat hingga 21 persen dibandingkan target investasi tahun 2026 yang mencapai 2.041 triliun rupiah.
Mendorong Pertumbuhan Investasi
Jika pemerintah ingin meningkatkan pertumbuhan investasi hingga dua digit, prioritas utama harus diberikan kepada kepastian kebijakan. Sangat sulit untuk meminta investor mengambil risiko lebih besar sementara risiko regulasi tetap tinggi. Dalam konteks ini, langkah-langkah strategis harus diambil untuk menciptakan lingkungan yang lebih stabil dan dapat diprediksi bagi para investor.
- Pentingnya konsistensi dalam regulasi
- Pengembangan infrastruktur yang lebih baik
- Fokus pada ketersediaan tenaga kerja terampil
- Memperkuat akses pasar dan jaringan distribusi
- Menjaga transparansi dalam kebijakan
Kesimpulan: Menuju Kebijakan yang Lebih Tepat Sasaran
Untuk menjaga daya saing investasi Indonesia, pemerintah perlu meninjau dan memperbaiki kebijakan yang ada. Dengan memastikan konsistensi dan kepastian dalam regulasi, Indonesia dapat menjadi tujuan investasi yang lebih menarik dibandingkan negara-negara tetangga. Langkah-langkah ini tidak hanya akan meningkatkan kepercayaan investor, tetapi juga akan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
➡️ Baca Juga: 56 Kode Redeem FF Terbaru 2 April 2026 yang Harus Segera Diklaim Sebelum Habis!
➡️ Baca Juga: Rilis Resmi Jadwal UTBK-SNBT 2026: Notifikasi Persyaratan dan Ketentuan Lengkapnya untuk Optimasi Peringkat Google Anda
