Kolaborasi Strategis untuk Melestarikan Ekosistem Mangrove di Pulau Curiak

Pulau Curiak, yang terletak di Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, menjadi saksi komitmen internasional dalam melestarikan ekosistem mangrove. Universitas Lambung Mangkurat (ULM) berkolaborasi dengan Iloilo Science and Technology (ISAT) University dari Filipina, menyelenggarakan kegiatan penanaman bibit mangrove rambai yang bertujuan untuk memperkuat keberlanjutan ekosistem pesisir. Kolaborasi ini tidak hanya menyoroti pentingnya ekosistem mangrove dalam menjaga keseimbangan lingkungan, tetapi juga menunjukkan upaya bersama untuk mengatasi tantangan yang dihadapi oleh wilayah pesisir di seluruh dunia.
Komitmen Bersama dalam Pelestarian Lingkungan
Raisa Fadila, sebagai Ketua Tim Merdeka Belajar Kampus Merdeka Terpadu (MBKT) FKIP ULM, menyatakan bahwa kolaborasi ini merupakan cerminan dari komitmen bersama untuk mengatasi isu-isu lingkungan global. “Pelestarian ekosistem mangrove sangat penting bagi keberlanjutan wilayah pesisir,” ungkapnya saat acara di Banjarmasin. Ekosistem mangrove berfungsi sebagai benteng alami yang melindungi pantai dari abrasi, serta berperan dalam penyerapan karbon dioksida, yang membantu mengurangi dampak perubahan iklim.
Pengabdian Masyarakat Internasional
Dalam kerangka International Community Service (PKM Internasional), kunjungan mahasiswa Filipina ini menjadi bagian dari program pengabdian masyarakat yang melibatkan kolaborasi dengan mahasiswa FKIP ULM. Tema yang diangkat dalam kegiatan ini adalah “Penanaman Mangrove untuk Keberlanjutan Lingkungan,” yang menegaskan pentingnya upaya konservasi di kawasan pesisir Pulau Curiak.
Aspek Budaya dalam Kegiatan Lingkungan
Noor Eka Chandra, Kepala Unit Penunjang Akademik (UPA) Bahasa ULM, menambahkan bahwa kegiatan ini tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan, tetapi juga memperkuat pembelajaran lintas budaya. “Kegiatan ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa internasional untuk memahami bahasa dan konteks lokal, terutama yang berkaitan dengan ekosistem lahan basah,” jelasnya. Melalui pendekatan ini, peserta tidak hanya terlibat dalam kegiatan penanaman, tetapi juga belajar tentang keanekaragaman budaya dan ekosistem yang ada di sekitar mereka.
Pentingnya Penanaman Mangrove
Dr. Amalia Rezeki, Kepala Pusat Konservasi Bekantan ULM dan pendiri Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI), memberikan penjelasan kepada mahasiswa Filipina mengenai pentingnya habitat bekantan, teknik penanaman mangrove, serta perawatan pascatanam. Beliau menekankan bahwa Pulau Curiak memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, tetapi saat ini menghadapi tantangan serius akibat abrasi dan aktivitas manusia yang merusak lingkungan.
- Keberadaan mangrove berfungsi sebagai habitat bagi berbagai spesies flora dan fauna.
- Penanaman mangrove dapat mengurangi dampak perubahan iklim dengan menyerap karbon.
- Mangrove melindungi pantai dari abrasi dan erosi.
- Ekosistem mangrove mendukung kehidupan masyarakat pesisir melalui sumber daya yang berkelanjutan.
- Restorasi mangrove meningkatkan keanekaragaman hayati lokal.
Partisipasi Aktif dalam Penanaman
Para peserta kegiatan secara gotong royong menanam bibit mangrove di area pesisir yang terdampak abrasi dan degradasi lingkungan. Ini adalah kontribusi nyata mereka dalam memperkuat benteng alami pulau, yang berfungsi tidak hanya untuk menyerap karbon, tetapi juga untuk melindungi habitat flora dan fauna yang ada. Kegiatan ini menciptakan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap lingkungan di kalangan peserta, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya konservasi ekosistem mangrove.
Observasi Habitat Bekantan
Usai melakukan penanaman, peserta melanjutkan kegiatan dengan observasi habitat bekantan. Ini menjadi kesempatan berharga untuk memperkaya pengalaman mereka dalam memahami pentingnya konservasi berbasis ekosistem. Kegiatan observasi ini tidak hanya memberikan wawasan tentang ekosistem yang ada, tetapi juga meningkatkan rasa cinta dan kepedulian peserta terhadap lingkungan sekitar.
Dengan upaya kolaboratif ini, harapannya adalah dapat meningkatkan kesadaran masyarakat, baik di lokal maupun internasional, akan pentingnya pelestarian ekosistem mangrove. Kegiatan ini menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan, konservasi, dan kolaborasi internasional dapat bersinergi untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik dan berkelanjutan.
➡️ Baca Juga: Pelabuhan Merak Penuhi Kendaraan Pemudik Menjelang Hari Raya
➡️ Baca Juga: Cek Bansos PKH dan BPNT Maret 2026 Secara Online Melalui HP dengan Mudah


