Mayoritas Warga Thailand Menghadapi Tantangan Akibat Kenaikan Biaya Hidup yang Signifikan

BANGKOK – Survei terbaru yang dirilis pada tanggal 5 April menunjukkan bahwa banyak rumah tangga di Thailand mengalami kesulitan akibat meningkatnya biaya hidup. Fenomena ini terjadi menjelang perayaan Songkran, yang dirayakan pada tanggal 13 April, di mana liburan berlangsung hingga 15 April. Hal ini memunculkan kekhawatiran di kalangan warga terkait dampak ekonomi yang semakin berat.
Pengaruh Kenaikan Biaya Hidup di Thailand
Menurut jajak pendapat yang dilakukan oleh Universitas Suan Dusit, banyak warga Thailand saat ini menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari akibat lonjakan harga barang-barang pokok, terutama setelah krisis minyak yang melanda.
Metodologi Survei
Survei ini melibatkan 1.272 responden yang tersebar di seluruh Thailand, dilakukan baik secara daring maupun luring dari tanggal 31 Maret hingga 3 April. Metode ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat tentang kondisi yang dihadapi masyarakat.
Persepsi Warga Terhadap Kenaikan Harga
Saat ditanya mengenai dampak lonjakan harga saat ini, sekitar 61,32 persen responden mengungkapkan bahwa pengeluaran mereka telah meningkat secara signifikan dan bahwa barang-barang kebutuhan pokok kini menjadi terlalu mahal untuk dibeli. Hal ini mencerminkan kondisi ekonomi yang semakin menekan rumah tangga.
Sebanyak 43,87 persen responden lainnya menunjukkan kekhawatiran akan kemungkinan kekurangan barang atau penundaan dalam pengiriman. Sementara itu, 41,27 persen merasa masih dapat mengatasi situasi ini, meskipun mereka harus lebih berhati-hati dan selektif dalam berbelanja.
Dampak Krisis Harga Minyak
Hasil survei juga mengindikasikan bahwa krisis harga minyak telah memberikan tekanan tambahan pada anggaran rumah tangga. Sekitar 46,7 persen responden melaporkan bahwa mereka sangat tertekan oleh dampak terhadap pengeluaran sehari-hari, sementara 37,74 persen merasa cukup terpengaruh.
Faktor Penentu Partisipasi dalam Songkran
Harga bahan bakar menjadi faktor utama yang mempengaruhi keputusan warga untuk berpartisipasi dalam kegiatan Songkran. Hal ini diungkapkan oleh 55,66 persen responden. Selain itu, pengeluaran liburan yang lebih tinggi juga menjadi perhatian, di mana 49,53 persen responden mencermati hal ini. Khususnya, kekhawatiran terkait cuaca, seperti panas ekstrem, badai, dan polusi PM2.5, juga mempengaruhi 42,22 persen warga.
Tekanan pada Pengeluaran Liburan
Hasil survei menunjukkan bahwa kombinasi dari biaya energi yang meningkat, inflasi yang tinggi, dan kondisi cuaca buruk dapat memberikan dampak negatif pada partisipasi dalam perayaan liburan, yang merupakan salah satu periode tersibuk dalam kalendar Thailand.
Strategi Menghadapi Kenaikan Biaya
Untuk mengatasi pengeluaran yang meningkat, 51,42 persen responden menyatakan bahwa mereka berencana untuk melewatkan beberapa kegiatan perayaan guna menghemat uang. Banyak yang juga memilih untuk tidak melakukan perjalanan jauh atau tetap tinggal di rumah selama liburan.
Aspirasi Warga Terhadap Pemerintah
Ketika ditanya mengenai harapan mereka terhadap pemerintah untuk meringankan beban selama perayaan Songkran, sebanyak 75,94 persen responden menyatakan bahwa mereka menginginkan pemerintah untuk lebih serius dalam mengendalikan harga barang-barang konsumsi. Selain itu, mereka juga mendesak agar ada langkah-langkah untuk merangsang perekonomian lokal, sehingga masyarakat dapat memperoleh penghasilan yang lebih baik.
Proyek-Proyek Terhambat di Sektor Konstruksi
Di sisi lain, sektor konstruksi di Thailand menghadapi tantangan serius. Para pemimpin industri telah menyampaikan seruan mendesak kepada pemerintah mengenai potensi gelombang proyek yang terhambat dan penutupan lokasi konstruksi. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya biaya bahan baku dan bahan bakar yang telah mencapai tingkat yang tidak berkelanjutan.
Pernyataan dari Asosiasi Kontraktor Thailand
“Sejak tanggal 1 April, sektor ini telah berada pada persimpangan jalan yang kritis,” ungkap Liza Ngamtrakulpanit, presiden Asosiasi Kontraktor Thailand (TCA). Pernyataan ini menunjukkan betapa urgennya situasi yang dihadapi oleh para pelaku industri konstruksi, yang juga turut menjadi bagian dari tantangan ekonomi yang lebih luas di Thailand.
Dengan demikian, jelas bahwa kenaikan biaya hidup di Thailand tidak hanya memengaruhi individu dan rumah tangga, tetapi juga sektor-sektor ekonomi yang lebih luas. Dalam menghadapi tantangan ini, diperlukan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat untuk mencari solusi yang efektif dan berkelanjutan.
➡️ Baca Juga: Cek Promo Indomaret Hari Ini 29 Maret 2026: Diskon Susu Anak dan Pampers Mulai Rp40 Ribuan
➡️ Baca Juga: Strategi Berkelanjutan Changan Automobile dalam Produksi Mobil Listrik 2026




