Pontianak Hadapi Kepekatan Kabut Asap Ekstrem, Orangtua Meminta PJJ untuk Anak-anak

Pontianak saat ini menghadapi situasi darurat akibat kepekatan kabut asap yang ekstrem. Fenomena ini disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Kalimantan Barat. Dalam upaya melindungi kesehatan anak-anak mereka, banyak orang tua di Kota Pontianak mengajukan permohonan kepada Dinas Pendidikan setempat untuk mempertimbangkan pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau meliburkan sekolah sampai kondisi membaik.
Keadaan Darurat: Kabut Asap Memperparah Kualitas Udara
Selama tiga hari terakhir, kabut asap di Pontianak semakin pekat, dengan kondisi yang memprihatinkan. Rahmawati, seorang orang tua murid kelas 2 di MIN 4 Pontianak, menyampaikan harapannya untuk kembali menerapkan pembelajaran daring, terutama jika situasi kabut asap terus memburuk. “Kami sudah mengalami masa libur sebelumnya, tetapi sekarang kami merasa perlu untuk mengajukan kembali pembelajaran dari rumah untuk melindungi anak-anak kami,” ujarnya.
Risiko Kesehatan Anak di Tengah Kabut Asap
Kondisi udara yang buruk yang diakibatkan oleh kabut asap ini memberikan dampak negatif bagi kesehatan, terutama bagi anak-anak. Rahmawati menambahkan bahwa paparan asap dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan berbagai penyakit lainnya. “Anak-anak yang bermain di luar sekolah mungkin tidak menyadari bahaya yang mereka hadapi dari asap tersebut,” jelasnya.
- Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
- Penyakit pernapasan lainnya
- Resiko kesehatan jangka panjang
- Gangguan perkembangan anak
- Kesehatan mental yang terpengaruh
Penyebab Utama: Kebakaran Hutan dan Lahan
Kabut asap yang menyelimuti Pontianak dan sekitarnya merupakan akibat dari kebakaran lahan yang meluas di Kalimantan Barat. Sejak Agustus 2026, kabut asap mulai mengganggu aktivitas sehari-hari di sejumlah daerah, termasuk di Pontianak. Berdasarkan data yang diperoleh, terdapat 3.759 titik panas yang terdeteksi di wilayah Kalimantan Barat pada 20 Agustus 2026.
Deteksi Titik Panas dan Dampaknya
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Barat menunjukkan bahwa dari total titik panas yang terdeteksi, 224 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi, sementara 3.389 titik lainnya memiliki tingkat kepercayaan sedang dan 146 titik dengan tingkat kepercayaan rendah. Kabupaten Ketapang menjadi daerah dengan jumlah titik panas tertinggi, mencapai 1.795 titik.
- Ketapang: 1.795 titik
- Sanggau: 466 titik
- Landak: 268 titik
- Kubu Raya: 254 titik
- Kayong Utara: 200 titik
Kualitas Udara Sangat Buruk
Kualitas udara di Kota Pontianak saat ini berada dalam kondisi yang sangat buruk. Data dari IQAir menunjukkan bahwa indeks kualitas udara (AQI) di Pontianak mencapai angka 491 pada pukul 09.00 WIB pada 21 Agustus 2026. Angka ini masuk dalam kategori “Berbahaya” (Hazardous), yang tidak hanya berisiko bagi kelompok rentan, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
Partikel Polusi dan Dampaknya
Dalam laporan tersebut, PM2.5 tercatat sebagai polutan utama dengan konsentrasi mencapai 321 mikrogram per meter kubik (µg/m³). PM2.5 adalah partikel polusi yang sangat kecil, yang dapat terhirup dan masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparan berkelanjutan terhadap partikel halus ini dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan serta berdampak negatif pada kesehatan jantung.
Untuk mengatasi masalah ini, para orang tua berharap pemerintah kota dapat segera mengambil tindakan yang diperlukan untuk melindungi kesehatan anak-anak mereka. Dengan adanya kebijakan untuk kembali melaksanakan pembelajaran daring, diharapkan anak-anak dapat terhindar dari risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh kabut asap ekstrem ini.
➡️ Baca Juga: Veda Ega Pratama Targetkan Kesuksesan di Moto3 Jerez 2026, Simak Jadwal Lengkapnya
➡️ Baca Juga: Chelsea Berjuang Mengatasi Kendala Wrexham dalam Pertandingan Piala FA




