Tim Konseling UB Latih Mahasiswa untuk Kembangkan Keterampilan Konselor Sebaya
Di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, Universitas Brawijaya (UB) mengambil langkah proaktif dalam mempersiapkan mahasiswa untuk menjadi konselor sebaya yang kompeten. Kegiatan pelatihan ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan keterampilan konselor sebaya, tetapi juga untuk membangun kepedulian terhadap kesehatan mental di lingkungan kampus. Dilaksanakan oleh Subdirektorat Layanan Konseling, Pencegahan Kekerasan Seksual, dan Perundungan pada Sabtu, 11 April, di Lantai 8 Gedung Rektorat UB, acara ini menyasar mahasiswa yang memiliki minat dalam bidang konseling dan kesehatan mental.
Pentingnya Keterampilan Konselor Sebaya
Pelatihan ini mengajarkan mahasiswa untuk mengenali tanda-tanda awal krisis kesehatan mental, baik pada diri mereka sendiri maupun orang-orang di sekitar. Dalam suasana yang interaktif, mahasiswa diberikan pengetahuan tentang cara mendeteksi masalah kesehatan mental yang mungkin tidak terlihat secara kasat mata.
Peran Konselor yang Efektif
Menurut psikolog Ahmad Yafi, seorang konselor yang efektif bukan hanya memberikan solusi, melainkan juga membantu klien untuk memahami dan mengambil keputusan sendiri. “Konseling bukan sekadar memberi jawaban, tetapi tentang memahami perasaan klien,” ujarnya. Dengan demikian, proses konseling menjadi lebih berarti dan berdampak positif bagi orang yang dibantu.
Empati sebagai Kunci Konseling
Ahmad menekankan bahwa empati merupakan elemen vital dalam proses konseling. “Dengan memiliki empati, kita dapat lebih hadir dan memvalidasi perasaan orang lain,” tambahnya. Hal ini sangat penting dalam menciptakan lingkungan di mana individu merasa nyaman untuk berbagi perasaan dan pengalaman mereka.
Membangun Budaya Empati di Kampus
Budaya empati yang diterapkan di lingkungan kampus dapat mengubah cara mahasiswa berinteraksi. Ahmad menyatakan, “Ketika orang mau berbagi, mereka akan lebih asertif dalam mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Ini akan menciptakan budaya interaksi yang lebih baik, di mana orang tidak perlu memendam perasaan mereka.”
Pelatihan yang Komprehensif
Selain mendiskusikan pentingnya komunikasi asertif, pelatihan ini juga menyajikan materi tentang bagaimana membangun budaya peduli di antara mahasiswa. “Budaya saling peduli akan mendorong mahasiswa untuk lebih memperhatikan satu sama lain, seperti menanyakan kabar teman,” kata Ahmad.
Pentingnya Mendengarkan dengan Ketekunan
Ahmad juga menekankan pentingnya ketekunan dalam mendengarkan. “Jangan pernah merasa bosan untuk mendengarkan. Hal ini akan membuat kita lebih terlibat dalam proses konseling,” ungkapnya. Dengan mendengarkan secara aktif, konselor sebaya dapat lebih memahami situasi yang dihadapi oleh teman-temannya.
Kepuasan dalam Profesi Konseling
Banyak konselor merasa ‘candu’ dengan profesi ini, karena kepuasan datang ketika klien mereka mampu berdiri sendiri dan mengatasi masalahnya. Ahmad menjelaskan bahwa kebahagiaan seorang konselor tidak hanya terletak pada keberhasilan klien, tetapi juga pada hubungan yang terjalin selama proses konseling.
Teknik Dasar dalam Konseling
Materi tentang micro skills dalam konseling yang disampaikan Ahmad memberikan pemahaman mendalam tentang teknik-teknik dasar yang diperlukan. Teknik seperti eksplorasi, klarifikasi, dan parafrase menjadi alat penting bagi konselor sebaya dalam membantu teman atau diri sendiri saat menghadapi masalah emosional.
Manajemen Krisis Kesehatan Jiwa
Pemateri Muhammad Sunarto membahas tentang manajemen krisis kesehatan jiwa, serta praktik restrain yang aman dan beretika. Dia menjelaskan bahwa mahasiswa harus mampu mengenali berbagai jenis krisis mental yang mungkin dihadapi, seperti depresi, kecemasan berat, atau bahkan ide bunuh diri.
Respon yang Tepat dalam Krisis
Dalam situasi krisis, mahasiswa diharapkan dapat memberikan respon awal yang tepat dan membantu individu yang mengalami masalah untuk mencari bantuan profesional. “Restrain adalah tindakan pengendalian perilaku klien yang berpotensi membahayakan diri sendiri, orang lain, atau lingkungan. Tindakan ini hanya dilakukan sebagai pilihan terakhir setelah semua upaya de-eskalasi gagal,” jelas Sunarto.
Kesimpulan
Pelatihan keterampilan konselor sebaya di Universitas Brawijaya merupakan langkah penting dalam menciptakan lingkungan kampus yang lebih peduli dan responsif terhadap kesehatan mental. Dengan membekali mahasiswa dengan keterampilan yang tepat, diharapkan mereka tidak hanya dapat membantu diri mereka sendiri, tetapi juga teman-teman mereka dalam mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi. Melalui empati, keterampilan mendengarkan, dan teknik konseling yang efektif, mahasiswa dapat menjadi agen perubahan yang positif di kampus.
➡️ Baca Juga: Kura-Kura Bali: Menjaga Pura dengan Keseimbangan Antara Tradisi dan Modernitas
➡️ Baca Juga: Panduan Mengatasi Lag di Android Saat Multitasking Berat