5 Peran Baru Pustakawan di Era AI dan Hoaks yang Harus Anda Ketahui

Jakarta – Dalam era informasi yang semakin kompleks, perpustakaan tidak sekadar berfungsi sebagai tempat penyimpanan buku dan dokumen. Mereka memainkan peran penting dalam melestarikan ingatan kolektif, pengetahuan, dan warisan dokumenter agar tetap dapat diakses oleh generasi mendatang. Dengan munculnya teknologi baru dan beragam informasi digital, pustakawan kini dihadapkan pada tantangan yang lebih besar dalam menghadirkan informasi yang dapat dipercaya kepada masyarakat.
Peran Pustakawan di Era Digital
Di tengah transformasi digital yang pesat, peran pustakawan semakin vital. Hal ini terungkap dalam seminar bertajuk Guardians of Memory: Libraries, Democratic Literacy, and Digital Preservation in the Trans-Pacific Narrative, yang diadakan pada 13 Agustus. Acara ini diselenggarakan oleh Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) serta Fulbright Indonesia.
Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Pustakawan Indonesia, Joko Santoso, menegaskan bahwa tema Guardians of Memory mencerminkan tanggung jawab besar yang diemban oleh pustakawan. Warisan dokumenter tidak hanya terbatas pada buku dan manuskrip, tetapi meliputi surat kabar, foto, peta, rekaman suara, film, arsip, dan dokumen digital yang merekam perjalanan suatu bangsa.
Joko juga menjelaskan bahwa terdapat lima peran baru pustakawan yang semakin relevan dengan kondisi saat ini, yaitu sebagai penjaga memori, penghubung antara pengetahuan dan masyarakat, pemberi makna, pendidik, dan kolaborator. Pustakawan kini diharapkan tidak hanya menjaga rak buku, tetapi juga menjadi penghubung yang efektif untuk mengakses informasi yang berkualitas.
Pustakawan sebagai Penjaga Memori
Salah satu peran utama pustakawan adalah sebagai penjaga memori. Mereka bertanggung jawab untuk memastikan bahwa warisan budaya dan pengetahuan suatu masyarakat tetap terjaga dan dapat diakses oleh generasi mendatang. Dalam dunia yang dipenuhi dengan informasi yang cepat berubah, pustakawan harus memiliki kemampuan untuk memilah informasi yang relevan dan bermanfaat untuk masyarakat.
Pustakawan sebagai Penghubung Pengetahuan
Pustakawan juga berfungsi sebagai penghubung antara pengetahuan dan masyarakat. Dalam hal ini, mereka membantu masyarakat menemukan sumber informasi yang terpercaya dan berkualitas. Di tengah maraknya berita palsu dan informasi yang menyesatkan, peran ini menjadi semakin penting. Pustakawan diharapkan memiliki pengetahuan yang mendalam tentang berbagai sumber informasi untuk membantu masyarakat dalam menemukan apa yang mereka butuhkan.
Pustakawan sebagai Pemberi Makna
Dalam era informasi yang serba cepat, pustakawan juga diharapkan dapat memberikan makna di balik beragam informasi yang tersedia. Mereka harus mampu membantu masyarakat memahami konteks dari informasi yang mereka terima, sehingga masyarakat tidak hanya menjadi konsumen pasif, tetapi juga dapat berpikir kritis terhadap informasi yang ada.
Pustakawan sebagai Pendidik
Pendidikan literasi informasi dan literasi digital menjadi bagian integral dari peran pustakawan. Mereka tidak hanya bertanggung jawab untuk menyampaikan informasi, tetapi juga mendidik masyarakat mengenai cara mengakses, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara efektif. Pustakawan memiliki peran penting dalam membekali masyarakat dengan keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi tantangan informasi di era digital.
Pustakawan sebagai Kolaborator
Selain itu, pustakawan juga berfungsi sebagai kolaborator dalam komunitas mereka. Mereka bekerja sama dengan berbagai pihak, baik itu lembaga pendidikan, lembaga pemerintah, maupun organisasi non-pemerintah, untuk menciptakan program-program yang bermanfaat bagi masyarakat. Kerja sama ini penting untuk meningkatkan aksesibilitas informasi dan memberikan solusi terhadap masalah yang dihadapi oleh masyarakat.
Joko Santoso menekankan bahwa pustakawan masa depan bukan hanya sekadar penjaga rak buku. Mereka adalah penjaga memori, penghubung pengetahuan, pendidik literasi, pemberi konteks, dan mitra masyarakat dalam memahami dunia. Masa depan perpustakaan sangat tergantung pada profesionalisme dan kompetensi pustakawannya dalam menghadapi tantangan yang ada.
Tantangan dalam Pengelolaan Pengetahuan
Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, mengemukakan tiga tantangan utama yang dihadapi dalam pengelolaan pengetahuan saat ini:
- Kerentanan dokumen fisik dan objek digital: Dokumen dan objek digital sangat rentan terhadap kerusakan, bencana, keusangan format, serangan siber, dan kehilangan konteks.
- Disinformasi: Misinformasi yang berkembang pesat di tengah kelimpahan informasi menjadi tantangan serius bagi pustakawan dalam menyajikan informasi yang akurat.
- Pergeseran konsumsi pengetahuan: Peralihan dari konsumsi literatur panjang menuju konten pendek di media sosial mempengaruhi cara masyarakat mengakses pengetahuan.
Dalam menghadapi tantangan-tantangan ini, pustakawan perlu terus mengasah keterampilan dan pengetahuan mereka. Mereka harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan dinamika informasi yang cepat berubah. Hanya dengan cara ini, pustakawan dapat tetap relevan dan berkontribusi secara signifikan terhadap masyarakat.
Seminar yang diadakan juga bertepatan dengan peringatan 250 tahun Kemerdekaan Amerika Serikat dan 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Joko Santoso menekankan bahwa perjalanan sejarah kedua negara mengingatkan kita bahwa sebuah bangsa dibangun bukan hanya oleh tindakan di masa kini, tetapi juga oleh kemampuan untuk mengingat, memeriksa, dan memahami perjalanan masa lalu yang membentuk identitas mereka.
Dalam menghadapi era AI dan hoaks, peran pustakawan menjadi semakin penting. Dengan memanfaatkan teknologi dan keterampilan yang mereka miliki, pustakawan dapat membantu masyarakat untuk lebih memahami dunia informasi yang kompleks ini. Mereka adalah garda terdepan dalam menjaga integritas dan kredibilitas informasi, serta membimbing masyarakat menuju pemahaman yang lebih baik terhadap informasi yang mereka terima.
➡️ Baca Juga: Shirley Tangkilisan: Perempuan Menguasai Posisi Strategis di Perusahaan dengan Emansipasi yang Kuat
➡️ Baca Juga: Gubernur Ahmad Luthfi Lantik 27 Pejabat Berdasarkan Sistem Merit yang Transparan




