Menag Nasaruddin Umar Resmi Lantik Basnang Said sebagai Dirjen Pesantren dan 4 Pimpinan PTKN

Pada hari Selasa di Kantor Kementerian Agama Jakarta, Menteri Agama Nasaruddin Umar secara resmi melantik Basnang Said sebagai Direktur Jenderal (Dirjen) Pesantren. Selain itu, pelantikan ini juga mencakup empat pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) lainnya. Momen ini menandai langkah penting dalam penguatan dan penyempurnaan pengelolaan pesantren di Indonesia.
Pentingnya Pelantikan Basnang Said sebagai Dirjen Pesantren
Dengan adanya pelantikan tersebut, Basnang Said menjadi Dirjen Pesantren pertama setelah pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren sebagai unit kerja baru di Kementerian Agama. Sebelumnya, Ditjen Pesantren merupakan bagian dari Ditjen Pendidikan Islam, namun kini telah berdiri sendiri sebagai entitas terpisah dalam struktur organisasi Kementerian Agama.
Pembentukan Ditjen Pesantren ini berlandaskan pada Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2026 yang memuat perubahan atas Peraturan Presiden sebelumnya, yaitu Peraturan Presiden Nomor 152 Tahun 2024 mengenai Kementerian Agama. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mengembangkan dan memperhatikan keberadaan pesantren di Indonesia.
Dasar Hukum Pembentukan Ditjen Pesantren
Peraturan Presiden yang diterbitkan pada 27 Maret 2026 tersebut secara tegas mencantumkan Ditjen Pesantren dalam susunan organisasi Kementerian Agama. Penguatan posisi ini menjadi lebih kuat dengan terbitnya Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 16 Tahun 2026 pada 4 Agustus 2026, yang mengatur tentang perubahan atas Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Agama.
Dalam pasal 7 PMA tersebut, dijelaskan bahwa Ditjen Pesantren kini berfungsi sebagai satuan kerja tersendiri, sebuah langkah yang diharapkan dapat mempercepat reformasi dan pengembangan pesantren di seluruh tanah air.
Penugasan dan Harapan dari Menteri Agama
Penetapan Basnang Said sebagai Dirjen Pesantren terdaftar dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 114/TPA Tahun 2026, yang ditetapkan pada 10 September 2026 di Jakarta. Dalam pelantikan tersebut, Menteri Agama Nasaruddin Umar memberikan arahan yang jelas kepada Basnang untuk segera membangun tata kelola Ditjen Pesantren.
Menteri Agama juga menekankan pentingnya memperkuat kerja sama dengan berbagai unsur pimpinan, yang akan melengkapi struktur lembaga baru ini. Dia mendorong agar Ditjen Pesantren dapat menjalin komunikasi yang baik dengan semua pemangku kepentingan yang terlibat dalam pengelolaan pesantren.
Pentingnya Kerja Sama dalam Pengelolaan Pesantren
Menurut Nasaruddin, pengelolaan pesantren tidak dapat dilakukan secara terpisah; dibutuhkan kolaborasi yang erat dengan berbagai pihak yang terlibat dalam pengelolaan pesantren di daerah. Hal ini penting agar pesantren dapat berfungsi dengan optimal dan memenuhi harapan masyarakat.
Selain itu, Menag juga mengharapkan adanya langkah-langkah positif yang dapat diimplementasikan dalam 100 hari pertama Ditjen Pesantren. Dia optimis bahwa langkah-langkah ini akan menunjukkan perbedaan nyata bagi masyarakat, sebagai dampak dari keberadaan lembaga baru ini.
Pelantikan Pejabat Pimpinan PTKN
Selain melantik Basnang Said, Menteri Agama juga melantik empat pejabat pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN). Ini merupakan bagian dari upaya untuk memperkuat institusi pendidikan keagamaan di Indonesia, yang berfungsi sebagai penopang penting dalam pengembangan sumber daya manusia di bidang keagamaan.
- Penguatan manajemen pendidikan tinggi keagamaan
- Peningkatan kualitas pendidikan di pesantren
- Kolaborasi dengan berbagai lembaga pendidikan
- Peningkatan akses pendidikan bagi masyarakat
- Pengembangan kurikulum yang relevan dan modern
Dengan adanya pelantikan ini, diharapkan akan tercipta sinergi yang baik antara Ditjen Pesantren dan PTKN, sehingga dapat menghasilkan inovasi dan program-program yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Melalui kolaborasi ini, diharapkan pesantren dan pendidikan tinggi keagamaan dapat berkontribusi lebih besar terhadap pembangunan bangsa.
Visi ke Depan untuk Ditjen Pesantren
Dengan Basnang Said sebagai Dirjen Pesantren, visi ke depan adalah untuk menjadikan pesantren sebagai pusat keunggulan pendidikan dan nilai-nilai agama. Hal ini penting agar pesantren dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman, sambil tetap mempertahankan tradisi dan nilai-nilai luhur yang telah ada.
Penguatan terhadap kurikulum pesantren yang relevan dengan kebutuhan masyarakat modern menjadi salah satu fokus utama. Ini termasuk pengembangan kurikulum yang mencakup pelajaran umum dan keterampilan, sehingga santri memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi tantangan di dunia kerja dan masyarakat.
Strategi Implementasi yang Diharapkan
Dalam pelaksanaan tugasnya, Basnang Said diharapkan dapat merancang strategi yang jelas dan terukur. Ini mencakup pendekatan dalam membangun jaringan kerja sama dengan berbagai pihak, baik di tingkat lokal maupun nasional. Dengan cara ini, pesantren dapat lebih dikenal dan dihargai sebagai institusi pendidikan yang relevan dan berkontribusi positif bagi masyarakat.
Menteri Agama juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan pesantren. Dengan melibatkan masyarakat, diharapkan akan tercipta rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap keberlangsungan pesantren, serta meningkatkan dukungan dari berbagai pihak.
Pendidikan Karakter di Pesantren
Pendidikan karakter merupakan bagian integral dari proses belajar mengajar di pesantren. Basnang Said memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa nilai-nilai karakter yang baik dapat diajarkan dan diterapkan oleh para santri. Ini mencakup nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, dan rasa tanggung jawab.
Penguatan pendidikan karakter ini akan menjadi landasan bagi santri dalam berinteraksi dengan masyarakat dan menjalani kehidupan sehari-hari. Dengan memiliki karakter yang baik, santri diharapkan dapat menjadi agen perubahan positif di lingkungan sekitar mereka.
Peran Pesantren dalam Masyarakat
Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat. Dalam hal ini, Basnang Said diharapkan dapat merangkul berbagai elemen masyarakat untuk berpartisipasi dalam program-program yang dilaksanakan oleh pesantren.
Kerja sama dengan pemerintah daerah dan organisasi masyarakat sipil juga perlu ditingkatkan. Hal ini bertujuan untuk menciptakan program-program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta memberikan manfaat yang nyata bagi mereka. Dengan cara ini, pesantren dapat berfungsi sebagai jembatan antara pemerintah dan masyarakat.
Menjawab Tantangan Zaman
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, pesantren dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari perkembangan teknologi hingga perubahan sosial. Basnang Said harus mampu menghadapi tantangan ini dengan bijak, dengan memanfaatkan teknologi informasi untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih efektif.
Penggunaan teknologi dalam pendidikan pesantren akan membantu santri untuk lebih mudah mengakses informasi dan belajar secara mandiri. Ini juga akan membuka peluang bagi pesantren untuk menjalin kerja sama dengan institusi pendidikan lainnya di dalam dan luar negeri.
Inovasi dalam Pendidikan Pesantren
Inovasi menjadi kunci untuk mengembangkan pendidikan di pesantren. Basnang Said diharapkan dapat memperkenalkan metode-metode baru dalam pembelajaran yang menekankan pada interaktivitas dan partisipasi aktif santri. Dengan pendekatan ini, diharapkan proses belajar mengajar menjadi lebih menarik dan efektif.
Selain itu, pengembangan program-program ekstrakurikuler yang berbasis keterampilan juga sangat penting. Hal ini akan memberikan santri kesempatan untuk mengembangkan bakat dan potensi mereka di luar kurikulum akademis.
Kesimpulan
Pelantikan Basnang Said sebagai Dirjen Pesantren dan empat pimpinan PTKN lainnya merupakan langkah strategis dalam memperkuat pengelolaan dan pengembangan pesantren di Indonesia. Dengan visi yang jelas dan strategi yang terukur, diharapkan Ditjen Pesantren dapat berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan kualitas pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Melalui kerja sama yang baik antara berbagai pihak, pesantren dapat menjadi pusat keunggulan pendidikan yang relevan dan bermanfaat bagi masyarakat luas.
➡️ Baca Juga: USB YPKP Bandung Rayakan 20 Tahun, Kuatkan Posisi untuk Internasionalisasi
➡️ Baca Juga: Impor SAP dari Tiongkok Diduga Merugikan Industri, KADI Lakukan Penyelidikan Antidumping




