Film ‘Oasis’ Tayang di Bioskop 9 September, Menyoroti Reuni Dingin Gallagher Bersaudara

Film ‘Oasis: Don’t Look Back in Anger’ baru saja melakukan debutnya di Festival Film Venesia pada 9 September, memicu antusiasme di kalangan penggemar dan kritikus. Film ini mengeksplorasi dinamika yang kompleks antara dua bersaudara legendaris, Liam dan Noel Gallagher, yang dikenal sebagai otak di balik band ikonik Oasis. Dalam film ini, kita diperlihatkan momen-momen emosional saat mereka melakukan reuni setelah 15 tahun terpisah, serta bagaimana hubungan antara anak-anak mereka justru menjadi jembatan untuk rekonsiliasi kedua musisi ini.
Reuni yang Menyentuh Hati
Film ini menggambarkan perjalanan emosional yang terjadi selama latihan menjelang tur “Live ’25”, di mana Liam dan Noel akhirnya bertemu setelah sekian lama. Proses pertemuan ini menjadi sangat menarik, karena menggambarkan ketegangan yang masih ada meskipun ada upaya untuk memperbaiki hubungan. Steven Knight, pembuat film yang juga dikenal sebagai pencipta serial terkenal “Peaky Blinders”, mengungkapkan bahwa meskipun keduanya adalah pria yang enggan menunjukkan emosi, momen tersebut tetap penuh makna.
Ketegangan yang Terasa
“Mereka adalah pria kelas pekerja Inggris yang tidak akan menunjukkan perasaan mereka, bahkan tidak melakukan jabat tangan,” ungkap Knight dalam wawancara. Hal ini menciptakan suasana tegang yang terus membayangi mereka sepanjang film. Namun, melalui perjalanan tur ini, mereka berdua berupaya untuk menyingkirkan perseteruan yang telah menjadi bagian dari sejarah musik rock, dimulai dari insiden di belakang panggung pada tahun 2009.
Antusiasme Penggemar di Venesia
Seiring dengan pemutaran perdana film, penggemar Oasis berkumpul di Festival Film Venesia untuk menyaksikan momen bersejarah ini. Di tengah sinar matahari yang cerah, Liam dan Noel terlihat menyapa para penggemar dari atas perahu saat mereka tiba di lokasi. Momen ini menjadi simbol harapan baru bagi para penggemar yang telah lama menantikan rekonsiliasi antara dua sosok yang sangat berpengaruh dalam dunia musik.
Nostalgia Era 90-an
Reuni mereka di atas panggung tahun lalu tidak hanya menciptakan rasa nostalgia bagi penggemar, tetapi juga mengingatkan kita akan kekuatan Oasis sebagai salah satu band terbesar selama tiga dekade terakhir. Film ini berusaha untuk mengungkapkan daya tarik lintas generasi yang dimiliki oleh Oasis, mengapa musik mereka masih relevan hingga saat ini.
Peran Anak-Anak dalam Rekonsiliasi
Salah satu elemen menarik yang diungkap dalam film ini adalah bagaimana hubungan yang terjalin antara anak-anak Liam dan Noel berkontribusi pada rekonsiliasi mereka. Knight menjelaskan bahwa sebelum pertemuan kembali band, anak-anak mereka tidak saling mengenal. Namun, ketika hubungan di antara mereka mulai berkembang, hal ini membawa dampak positif bagi kedua bersaudara tersebut.
Teman Sejati
“Saya percaya bahwa anak-anak mereka menjadi penghubung yang memperkuat ikatan di antara Liam dan Noel. Mereka bertemu dan menjadi teman,” tambah Knight. Ini menggambarkan bahwa hubungan keluarga, terutama di tengah konflik, dapat menjadi kunci untuk menyelesaikan masalah yang lebih besar.
Pertunjukan di Layar Lebar
Film ‘Oasis: Don’t Look Back in Anger’ merupakan bagian dari tren baru di industri musik, di mana artis besar merilis film dokumenter tentang tur mereka. Ini memberikan kesempatan bagi penggemar yang tidak bisa menghadiri konser untuk menikmati pengalaman pertunjukan melalui layar lebar. Dengan cara ini, film menjadi alternatif bagi mereka yang ingin merasakan atmosfer konser secara lebih intim.
Contoh Keberhasilan di Pasaran
Contoh sukses yang patut dicatat adalah film dokumenter tur Taylor Swift yang dirilis pada tahun 2023, yang berhasil meraup sekitar $260 juta di seluruh dunia. Begitu juga dengan film yang dirilis oleh Beyoncé pada tahun yang sama, yang menghasilkan pendapatan $44 juta. Hal ini menunjukkan bahwa ada permintaan yang besar untuk konten seperti ini di kalangan penggemar.
Kontroversi dan Hiburan
Meskipun film ini mengandung banyak elemen yang menghibur, beberapa isu kontroversial tetap muncul. Misalnya, film ini menyentuh tentang perpisahan antara Liam dan Noel yang terjadi pada tahun 2009, serta tahun-tahun penuh dendam yang menyusul. Namun, film ini lebih fokus pada perjalanan emosional mereka, termasuk kegugupan Liam yang berusaha untuk tidak melakukan kesalahan dan usahanya untuk menjauh dari rokok dan alkohol selama tur.
Emosi di Panggung
Dalam film ini, kita juga melihat bagaimana Noel menghadapi emosinya saat pertunjukan pertama di Cardiff pada Juli 2025. Momen-momen ini menunjukkan bahwa di balik setiap penampilan yang megah, terdapat perjuangan pribadi yang dialami oleh para seniman. Ini memberikan kedalaman yang lebih pada narasi film dan membuatnya lebih relatable bagi penonton.
Kesimpulan Cerita yang Kuat
Secara keseluruhan, ‘Oasis: Don’t Look Back in Anger’ bukan hanya sebuah film dokumenter tentang tur, tetapi juga sebuah cerita yang menyoroti kompleksitas hubungan keluarga dan rekonsiliasi. Dengan menampilkan perjalanan emosional Liam dan Noel, film ini berhasil menyampaikan pesan bahwa meskipun ada perbedaan dan konflik, selalu ada harapan untuk memperbaiki hubungan yang telah rusak. Melalui pandangan yang mendalam ini, penonton diharapkan dapat merasakan kembali kekuatan musik Oasis yang telah menginspirasi banyak orang selama ini.
➡️ Baca Juga: Samsung dan SK Hynix Tingkatkan Produksi Chipset Melalui Ekspansi Pabrik di Tiongkok
➡️ Baca Juga: Menhub Tegaskan Operasional Bandara Kembali Normal Setelah Erupsi Vulkanik



