DPRD Surabaya Dorong Inisiatif Pengembangan Pangan Ramah Lingkungan yang Berkelanjutan

Di tengah tantangan global terkait ketahanan pangan dan dampak perubahan iklim, inisiatif pengembangan pangan ramah lingkungan menjadi semakin krusial. Di Surabaya, Ketua Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Yona Bagus Widyatmoko mengambil langkah nyata dengan mendorong implementasi model berbasis lingkungan yang terinspirasi dari Kampung Malaka Jaya di Jakarta Timur. Inisiatif ini tidak hanya berfokus pada pengelolaan limbah, tetapi juga melibatkan pemberdayaan masyarakat untuk membangun ketahanan pangan yang berkelanjutan.
Penerapan Model Kampung Malaka Jaya
Yona menekankan pentingnya mengadopsi konsep pengelolaan sampah organik yang efektif, serta budidaya pangan yang dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Salah satu langkah awal yang diambil adalah mendistribusikan tong komposter di berbagai wilayah binaan. Hal ini bertujuan untuk memudahkan warga dalam mengolah limbah organik menjadi pupuk yang berguna untuk pertanian.
“Sebagai langkah awal, saya telah mendistribusikan 20 unit tong komposter berkapasitas 160 liter di Perumahan Gunung Sari Indah, khususnya di RW-9 Kelurahan Kedurus,” ungkap Yona dalam pernyataannya di Surabaya. Langkah ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi wilayah lain dalam menerapkan program serupa.
Membangun Ekosistem Ketahanan Pangan
Pengolahan limbah organik menjadi kunci untuk membangun ekosistem ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. Inisiatif yang dimulai dari Perumahan Gunung Sari Indah ini kemudian diperluas ke sejumlah RW lain, mencakup RW 3 dan 4 Sumberan, Kelurahan Balas Klumprik, serta beberapa RW lainnya di kawasan tersebut.
“Selain GSI, kami juga merambah ke RW 4 Kelurahan Jajar Tunggal, RW 1 Kelurahan Kedurus, RW 3 Kelurahan Jeruk, dan RW 2 serta 3 Kelurahan Warugunung,” tambahnya. Pendekatan ini menunjukkan upaya sistematis untuk memperluas dampak positif dari program pengolahan limbah organik.
Inspirasi dari Malaka Jaya
Yona menjelaskan bahwa Malaka Jaya dipilih sebagai referensi karena keberhasilan pengelolaan limbah di daerah tersebut yang terintegrasi dengan kegiatan ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Di Malaka Jaya, berbagai aktivitas seperti pengolahan sampah organik, budidaya ikan, serta pertanian produktif dilakukan dalam satu ekosistem yang saling mendukung.
“Konsep yang saya ambil terinspirasi dari Malaka Jaya. Di sana, pengelolaan limbah organik bukanlah kegiatan yang terpisah, tetapi menjadi bagian penting dari ketahanan pangan dan produktivitas warga,” jelasnya. Melalui pendekatan ini, diharapkan dapat memaksimalkan penggunaan ruang di permukiman untuk kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Manfaat Lingkungan dan Sosial
Model pengelolaan ini tidak hanya berfokus pada pengolahan limbah, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi bagi warga. Dengan adanya kolam gizi, budidaya lele, serta pertanian produktif, masyarakat dapat memperoleh manfaat langsung dari kegiatan ini. Integrasi berbagai aspek dalam satu sistem menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan produktif.
- Peningkatan ketahanan pangan lokal.
- Pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan dan keterampilan baru.
- Penciptaan lapangan kerja di sektor pertanian dan perikanan.
- Pengurangan volume sampah organik melalui daur ulang.
- Peningkatan kesadaran lingkungan di kalangan masyarakat.
Penyesuaian Konsep untuk Surabaya
Walaupun terinspirasi oleh Malaka Jaya, Yona menegaskan bahwa konsep tersebut tidak akan diterapkan secara langsung di Surabaya. Penyesuaian akan dilakukan berdasarkan kondisi lingkungan, ketersediaan lahan, serta kebutuhan spesifik masyarakat setempat. “Kita tidak harus meniru Malaka Jaya secara persis. Kita akan menyesuaikannya dengan kondisi kampung di Surabaya, tetapi prinsip dasarnya tetap sama,” tuturnya.
Dengan pendekatan ini, diharapkan pengelolaan limbah organik dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi masyarakat. Hasil dari pengolahan limbah diharapkan dapat kembali ke warga dalam bentuk pupuk yang berguna untuk pertanian lokal.
Program Pengolahan Limbah Organik di RW
Untuk tahap awal, Yona merencanakan untuk menyediakan setidaknya empat tong komposter bagi setiap RW yang berminat untuk ikut serta dalam program pengolahan limbah organik. Jumlah tersebut akan disesuaikan dengan luas wilayah dan banyaknya RT dalam satu RW.
“Setiap RW yang menunjukkan minat untuk menjalankan program ini akan mendapatkan minimal empat tong komposter, tergantung cakupan wilayah dan luas RT masing-masing,” ujarnya. Dengan distribusi yang terencana ini, diharapkan program dapat menjangkau lebih banyak masyarakat dan meningkatkan partisipasi dalam pengolahan limbah organik.
Harapan untuk Masa Depan
Inisiatif pengembangan pangan ramah lingkungan yang digagas oleh DPRD Surabaya ini diharapkan tidak hanya dapat meningkatkan ketahanan pangan lokal, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat. Dengan melibatkan warga dalam pengelolaan limbah dan budidaya pangan, diharapkan akan tercipta kesadaran dan partisipasi aktif dalam menjaga lingkungan.
Melalui program ini, masyarakat tidak hanya belajar untuk mengelola limbah mereka dengan lebih baik, tetapi juga memahami pentingnya ketahanan pangan dan keberlanjutan. Yona berharap bahwa langkah ini dapat menjadi model bagi daerah lain dalam mengembangkan sistem yang serupa.
Dengan tekad kuat dan dukungan masyarakat, pengembangan pangan ramah lingkungan di Surabaya dapat menjadi langkah maju dalam menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.
➡️ Baca Juga: 90 Personel Dikerahkan untuk Penanganan Kebakaran Permukiman di Tenggarong
➡️ Baca Juga: Borussia Dortmund Siap Akhiri Dominasi Bayern Munich di Piala Super Jerman 2023




