Kemenag Resmi Pecat Akhmad Muzakki sebagai Rektor UINSA Surabaya dalam Seminggu Menjabat

Dalam perkembangan terbaru yang mengejutkan di dunia pendidikan tinggi Indonesia, Akhmad Muzakki telah diberhentikan secara resmi dari posisi Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya (UINSA). Keputusan ini diambil setelah Muzakki mengajukan pengunduran diri di tengah protes dan penolakan yang melibatkan mahasiswa serta sejumlah elemen sivitas akademika. Kejadian ini menimbulkan berbagai pertanyaan mengenai kepemimpinan dan tata kelola di lingkungan kampus, serta dampaknya terhadap kegiatan akademik di UINSA.
Pengunduran Diri dan Pemberhentian Resmi
Pada tanggal 23 September 2026, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengeluarkan Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 060729/MA.KP.07/09/2026. Keputusan ini dikeluarkan sehari setelah Muzakki mengajukan surat pengunduran dirinya kepada Kementerian Agama. Pemberhentian ini dilakukan dengan hormat dan disertai ucapan terima kasih atas jasanya selama menjabat sebagai Rektor UINSA.
Muzakki sebelumnya dilantik kembali untuk periode 2026–2030 pada 15 September 2026, setelah sebelumnya memimpin institusi tersebut selama periode 2022–2026. Namun, pelantikan ini tidak berlangsung mulus. Dalam waktu singkat, situasi berubah drastis dengan munculnya aksi penolakan dari mahasiswa yang menuntut agar Muzakki tidak melanjutkan kepemimpinannya.
Protes Mahasiswa dan Tuntutan
Sehari setelah pelantikan, ratusan mahasiswa UINSA menggelar demonstrasi besar-besaran sebagai bentuk penolakan. Mereka menuntut perubahan dalam tata kelola kampus yang dinilai telah menciptakan ketidakpuasan di kalangan mahasiswa dan akademisi. Selain itu, sejumlah dosen dan guru besar UINSA juga mengungkapkan keberatan terhadap pengangkatan Muzakki.
- Mahasiswa menyampaikan delapan tuntutan utama.
- Tuntutan terbesar adalah mendorong Muzakki untuk mengundurkan diri.
- Tindakan mahasiswa mencakup penyegelan gerbang utama kampus.
- Mereka mendirikan posko aksi di depan Gedung Rektorat.
- Akses akademik tetap berlangsung melalui gerbang alternatif.
Aksi protes ini tidak hanya mencerminkan ketidakpuasan mahasiswa, tetapi juga menciptakan ketegangan di dalam kampus. Meskipun gerbang utama kampus disegel, kegiatan akademik tidak sepenuhnya terhenti karena akses melalui pintu lain tetap dibuka. Mahasiswa bersikeras untuk bertahan di kampus hingga tuntutan mereka dipenuhi.
Polemik Masuk ke Tingkat Pemerintah
Polemik ini kemudian menarik perhatian pemerintah dan DPR, dengan pembahasan mengenai kepemimpinan UINSA yang berlangsung dalam forum dengan Komisi VIII DPR RI pada 21 September. Rapat kerja tersebut menghasilkan kesepakatan untuk segera menyelesaikan masalah yang dihadapi UINSA serta mendesak untuk menangguhkan jabatan Muzakki. Langkah ini diambil agar situasi yang memanas tidak mengganggu proses akademik yang berlangsung.
Pada hari yang sama, Muzakki menyampaikan surat pengunduran dirinya kepada Kementerian Agama, menandakan bahwa situasi telah mencapai titik kritis. Tindakan ini segera direspons oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UINSA, yang meminta bukti administratif resmi mengenai pengunduran diri Muzakki serta penjelasan dari pihak kampus kepada mahasiswa.
Respon Kementerian Agama
Kepala Biro Sumber Daya Manusia (SDM) Sekretariat Jenderal Kementerian Agama, Muhammad Zain, menjelaskan bahwa pemberhentian Muzakki dilakukan dengan cara yang sesuai dan mengapresiasi kontribusinya selama menjabat. Ia menekankan pentingnya pengambilan keputusan ini untuk menjaga kelangsungan kegiatan kampus dan memberikan ruang bagi pemimpin baru untuk melanjutkan program-program yang ada.
“KMA tentang pemberhentian Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya terbit menyusul surat pernyataan pengunduran diri yang disampaikan oleh Prof. Muzakki pada 22 September 2026,” ungkap Muhammad Zain dalam pernyataan resmi di Jakarta.
Pelaksana Tugas Rektor Baru
Dalam upaya menjaga kesinambungan kegiatan akademik di UINSA, Menteri Agama menunjuk Amien Suyitno, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Rektor UINSA. Penunjukan ini diharapkan dapat membawa stabilitas dan memulihkan suasana kampus yang sempat terguncang akibat polemik yang berkepanjangan.
Dengan adanya perubahan kepemimpinan ini, harapan besar muncul untuk memperbaiki tata kelola di UINSA dan menjawab berbagai tuntutan yang telah disampaikan oleh mahasiswa. Keberadaan pemimpin baru diharapkan mampu menjalin komunikasi yang lebih baik dengan sivitas akademika serta mengimplementasikan kebijakan yang lebih inklusif dan transparan.
Harapan untuk Ke depan
Peristiwa pemberhentian Rektor UINSA ini menjadi pelajaran berharga bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Situasi ini menunjukkan betapa pentingnya dialog terbuka antara pimpinan kampus dengan mahasiswa dan dosen. Keberhasilan institusi pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan yang diambil, tetapi juga oleh bagaimana kebijakan tersebut diterima dan diimplementasikan oleh semua pihak terkait.
Ke depan, diharapkan akan ada pembaruan dalam cara pengelolaan kampus yang lebih baik, serta peningkatan komunikasi antara semua elemen di UINSA. Dengan demikian, UINSA dapat kembali menjadi pusat pendidikan yang berkualitas dan tempat yang kondusif bagi pengembangan ilmu pengetahuan serta penelitian.
➡️ Baca Juga: Pemain Inter Toronto FC Rayakan Kemenangan dengan Kartu Nama Agen Properti yang Unik
➡️ Baca Juga: OPEC+ Setujui Peningkatan Produksi Minyak untuk Bulan Mei 2023




