Mengenal Jelekongism: Definisi, Ciri-Ciri, dan Dampaknya dalam Masyarakat

Jelekongism mungkin masih terdengar asing bagi sebagian orang, meskipun konsep ini telah diperkenalkan oleh seniman Arya Sudrajat melalui pameran tunggalnya. Diadakan di Art1: New Museum, Jakarta, pada Sabtu lalu, pameran ini menyoroti keunikan dan kehidupan seni yang berkembang di Jelekong.
Definisi Jelekongism
Jelekongism adalah sebuah gerakan seni yang mencoba untuk menampilkan lebih dari sekadar visual, tetapi juga merangkum kehidupan sosial dan budaya masyarakat di Desa Wisata Jelekong, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Arya Sudrajat, sebagai pelopor Jelekongism, berusaha menunjukkan bahwa Jelekong bukan hanya sekadar kampung pelukis, melainkan juga merupakan ruang budaya yang kaya akan tradisi dan pengetahuan seni.
Visi Arya Sudrajat
Arya menjelaskan bahwa karyanya berupaya untuk mengangkat nilai-nilai kehidupan yang ada di Jelekong. Menurutnya, di dalam Jelekong terdapat banyak elemen yang saling terkait, seperti masyarakat, lanskap, sejarah, dan pengetahuan melukis yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Pameran ini merupakan refleksi dari semua hal tersebut, dan sebagai upaya untuk melestarikan budaya seni Indonesia.
Ciri-Ciri Jelekongism
Ciri khas dari Jelekongism meliputi:
- Penggambaran kehidupan sehari-hari masyarakat lokal.
- Penggunaan material yang ramah lingkungan dan lokal.
- Penekanan pada komunitas dan kolaborasi dalam proses berkarya.
- Menjaga tradisi melukis yang telah ada sejak lama.
- Menjelajahi hubungan antara seni dan kehidupan sosial.
Melalui elemen-elemen tersebut, Jelekongism menegaskan bahwa seni tidak terlepas dari konteks kehidupan yang lebih luas. Hal ini menjadi salah satu fokus utama dalam pameran yang diadakan.
Peran Kurator dan Pendukung Pameran
Vincent Rumahloine, sebagai kurator pameran, menilai bahwa Jelekongism tidak hanya berfokus pada aspek lukisan, tetapi juga meliputi perilaku, ruang, material, dan hubungan sosial yang membentuk kehidupan seni di Jelekong. Ia percaya bahwa pameran ini dapat memberikan wawasan baru tentang seni dan budaya lokal.
Susrinah Sanyoto Sastrowardoyo, Ketua Dewan Pengawas Yayasan Bubuara Jelekong Indonesia, menambahkan bahwa tujuan mereka adalah untuk menciptakan ruang bagi perkembangan seni lukis Jelekong serta memperkenalkan praktik dan ekosistem seni kepada masyarakat yang lebih luas. Hal ini sejalan dengan upaya untuk menjaga kelestarian seni dan budaya di kawasan tersebut.
Dampak Jelekongism dalam Masyarakat
Dampak dari Jelekongism tidak hanya dirasakan oleh para seniman, tetapi juga oleh masyarakat sekitar. Pameran ini menjadi sarana untuk mendidik dan menginspirasi generasi muda agar lebih menghargai seni dan budaya lokal. Menurut Grace, istri Menteri Kebudayaan, pameran ini menggambarkan Jelekong sebagai ekosistem budaya yang hidup, di mana seni lukis dan praktik seni lainnya saling mendukung.
Inspirasi dari Lingkungan Sekitar
Grace juga menekankan bahwa dalam pameran ini terdapat berbagai elemen yang mencerminkan kehidupan di Jelekong, seperti sawah, sungai, dan interaksi antar keluarga. Semua unsur ini diubah menjadi kreativitas yang mencerminkan jati diri bangsa. Sebuah contoh yang menarik adalah penggunaan karung tepung sebagai kanvas oleh seniman di tahun 70-an, yang menunjukkan bagaimana keterbatasan dapat menjadi sumber inspirasi.
Pentingnya Mempertahankan Seni dan Budaya
Pameran Jelekongism diharapkan dapat menjadi pengingat bagi banyak pihak akan pentingnya seni yang lahir dari kehidupan kolektif. Seni bukanlah produk yang muncul dari ruang kosong, melainkan hasil dari interaksi antara manusia, tanah, dan ingatan yang diwariskan. Hal ini merupakan inti dari pesan yang ingin disampaikan melalui pameran ini.
Pengakuan dari Maestro Seni
Maestro seni lukis, Sunaryo, memberikan pandangannya mengenai potensi Arya sebagai seniman. Ia mengenal Arya sejak mengikuti program residensi di Selasar Sunaryo Art Space pada 2017. Sunaryo menilai Arya memiliki bakat yang dapat membuka jalan bagi pelukis lainnya dari daerah asalnya, sehingga dapat memperkaya khazanah seni rupa Indonesia.
Sunaryo menyatakan, “Dia adalah seorang seniman yang mampu berkembang pesat dan tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga memberikan kesempatan bagi warga lukis di kampungnya.” Ini menunjukkan komitmen Arya untuk mengangkat seni dari komunitasnya dan menjadikannya lebih dikenal di tingkat nasional.
Kesempatan untuk Berkembang
Pameran Jelekongism, yang berlangsung selama dua minggu hingga 18 Oktober, menampilkan 30 karya lukis dan instalasi seni yang menarik. Ini memberikan kesempatan bagi para seniman untuk menunjukkan karya mereka di hadapan publik yang lebih luas. Dengan demikian, pameran ini tidak hanya menjadi ajang pameran, tetapi juga sebagai platform untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman antar seniman.
Dengan pengakuan dan dukungan dari berbagai pihak, diharapkan Jelekongism dapat terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi masyarakat serta dunia seni di Indonesia. Melalui gerakan ini, kita diajak untuk lebih menghargai nilai-nilai seni dan budaya yang tumbuh dari akar kehidupan masyarakat lokal.
➡️ Baca Juga: Jadwal WFA Lebaran 2023 Sesuai Edaran Pemerintah: Terdapat 5 Hari Libur yang Perlu Diketahui
➡️ Baca Juga: BMKG Peringatkan Nelayan untuk Siaga Terhadap Gelombang Tinggi 2,5 Meter di Perairan Sultra



