happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

slot depo 10k slot depo 10k
Pendidikan

Pakar UGM Menjelaskan Faktor Penyebab Longsor Selain Curah Hujan yang Tinggi

Jakarta – Badan Geologi telah mengeluarkan peringatan terkait potensi pergerakan tanah yang tinggi di 12 provinsi di Indonesia, yang dapat berujung pada bencana tanah longsor. Menurut Wahyu Wilopo, seorang dosen di Departemen Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada, bencana ini tidak hanya disebabkan oleh curah hujan yang tinggi. Terlebih lagi, saat ini Indonesia sedang menghadapi musim kemarau yang berkepanjangan akibat fenomena El Nino. Wahyu menjelaskan bahwa kondisi lereng dipengaruhi oleh beragam faktor yang menentukan tingkat kerentanannya sebelum adanya pemicu yang menyebabkan longsor.

Faktor Pengontrol yang Mempengaruhi Kerentanan Lereng

Wahyu mengungkapkan bahwa faktor pengontrol adalah aspek-aspek alam yang membentuk kondisi suatu lereng. “Kondisi alam ini yang mengontrol,” ujarnya. Di Indonesia, wilayah seperti Jawa dan Sumatera dengan topografi pegunungan cenderung lebih rentan terhadap longsor. Berikut adalah beberapa faktor pengontrol yang perlu diperhatikan:

  • Kemiringan Lereng: Lereng yang lebih curam memiliki kestabilan yang lebih rendah, membuatnya lebih mudah mengalami pergerakan saat mendapat pemicu.
  • Kondisi Tanah dan Batuan: Material yang sudah lapuk cenderung lebih mudah bergerak dibandingkan batuan yang kompak dan keras.
  • Struktur Geologi: Retakan atau bidang lemah dalam batuan dapat menjadi jalur yang mempermudah terjadinya longsor.
  • Hidrologi Lereng: Sistem drainase yang buruk dapat menyebabkan air lebih banyak meresap ke dalam lereng, meningkatkan risiko longsor.
  • Tata Guna Lahan: Penggunaan lahan yang memberikan beban tambahan atau meningkatkan infiltrasi air dapat memengaruhi kestabilan lereng.

Jika berbagai faktor tersebut telah menciptakan kondisi rentan, longsor tetap memerlukan pemicu untuk terjadi.

Pemicu Utama Terjadinya Longsor

Wahyu menjelaskan bahwa meskipun kondisi lereng sudah rentan, suatu pemicu diperlukan agar material pada lereng kehilangan kestabilannya. Tiga pemicu utama yang dapat menyebabkan longsor adalah:

  • Curah Hujan: Di Indonesia, curah hujan menjadi salah satu faktor yang paling umum berkaitan dengan kejadian longsor. Air yang masuk ke dalam lereng bisa meningkatkan kandungan air pada material, yang berpengaruh pada kestabilannya.
  • Getaran: Guncangan akibat gempa bumi dapat mengganggu material yang sudah berada dalam kondisi rentan, seperti yang pernah terjadi di Yogyakarta.
  • Aktivitas Manusia: Perubahan yang dilakukan pada lereng, seperti pemotongan untuk pembangunan, dapat mengubah kemiringan dan mempermudah pergerakan material.

Dengan demikian, keberadaan hujan bukanlah satu-satunya syarat terjadinya longsor. Selama lereng berada dalam kondisi rentan, pergerakan dapat dipicu oleh guncangan atau kegiatan manusia.

Pergerakan Tanah yang Berlangsung Perlahan

Salah satu fenomena pergerakan tanah yang dapat terjadi tanpa adanya hujan adalah rayapan tanah. Proses ini dipengaruhi oleh karakteristik lapisan tanah atau batuan tertentu. Contohnya, pada material berlapis lempung, kadar air dapat memengaruhi pergerakan material tersebut. Pergerakan ini dapat meningkat saat memasuki musim hujan dan melambat pada musim kemarau.

Sistem Peringatan Dini untuk Mitigasi Longsor

Adanya pergerakan tanah yang berpotensi menyebabkan longsor memerlukan pemantauan yang intensif. Wahyu menekankan bahwa Indonesia telah mengembangkan sistem peringatan dini untuk gerakan tanah yang dilengkapi dengan standar pengatur. Sistem ini memantau dua parameter utama, yaitu curah hujan dan deformasi pada lereng. Keduanya memberikan gambaran tentang perubahan kondisi yang dapat mengarah pada gerakan tanah.

Namun, angka batas yang digunakan untuk peringatan tidak dapat diterapkan sama di setiap daerah. Karakteristik lereng dan kondisi geologis lokal mempengaruhi kerentanan setiap wilayah. Sebagai contoh, di Jawa, curah hujan sekitar 100 milimeter per hari dapat berkaitan dengan kejadian longsor pada kondisi tertentu, sementara deformasi yang terdeteksi di lokasi tertentu bisa menjadi tanda bahaya ketika pergerakannya mencapai ukuran tertentu.

Mitigasi Longsor: Pendekatan Struktural dan Nonstruktural

Mitigasi risiko longsor harus dilakukan secara komprehensif. Wahyu membagi langkah-langkah mitigasi menjadi dua kategori: struktural dan nonstruktural. Dalam pendekatan nonstruktural, penataan ruang menjadi sangat penting, karena menentukan bagaimana suatu wilayah dimanfaatkan. Penting untuk mempertimbangkan potensi bencana saat merencanakan permukiman dan aktivitas lainnya. Peta kerentanan bencana dapat digunakan sebagai dasar untuk menyusun tata ruang yang lebih baik.

  • Wilayah dengan kerawanan tinggi perlu mendapat perhatian khusus dalam perencanaan ruang.
  • Pembangunan bangunan penahan longsor dan perbaikan sistem drainase merupakan langkah struktural yang penting.
  • Penanaman vegetasi dengan sistem perakaran yang sesuai dapat membantu menjaga kestabilan lereng.
  • Pentingnya edukasi masyarakat mengenai tanda-tanda awal longsor dan prosedur evakuasi.
  • Kesiapsiagaan harus ditingkatkan, terutama saat memasuki musim hujan.

Kesiapsiagaan masyarakat sangat penting, terutama saat memasuki musim hujan. Wahyu mengingatkan bahwa retakan pada tanah yang terbentuk dalam kondisi kering bisa menjadi jalur masuk air saat hujan. Oleh karena itu, perhatian khusus perlu diberikan pada awal musim hujan, terutama di wilayah yang sebelumnya menunjukkan tanda-tanda kerentanan.

Kesiapan Masyarakat dalam Menghadapi Longsor

Sistem peringatan dini tidak dapat berfungsi optimal tanpa dukungan dari masyarakat. Penting bagi masyarakat untuk memahami bagaimana merespons informasi yang diberikan oleh sistem peringatan dini. Edukasi mengenai prosedur evakuasi dan tindakan yang perlu diambil saat kondisi berbahaya sangat diperlukan.

“EWS sudah memberikan informasi, tetapi jika masyarakat tidak merespons dengan baik, informasi tersebut tidak ada artinya,” ujar Wahyu. Oleh karena itu, keterlibatan aktif masyarakat dalam upaya mitigasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan sistem manajemen risiko longsor.

Dengan pemahaman yang mendalam mengenai faktor penyebab longsor dan upaya mitigasi yang komprehensif, diharapkan risiko bencana ini dapat diminimalisir. Keberadaan sistem peringatan dini yang efisien harus diimbangi dengan kesiapan masyarakat untuk bertindak, sehingga langkah-langkah mitigasi dapat memberikan hasil yang optimal dalam melindungi kehidupan dan harta benda.

➡️ Baca Juga: Perkembangan Terkini Real Madrid vs Man City: Carreras Tambah Daftar Cedera Pemain Los Blancos

➡️ Baca Juga: DPRD Jabar Tindak Tegas BUMD Merugi untuk Menyelamatkan APBD dan Meningkatkan PAD

Related Articles

Back to top button